Mengagungkan syiar-syiar allah serta hikmahnya

Mengagungkan syiar-syiar allah serta hikmahnya

AJARAM MUSLIM - Mengagungkan syiar-syiar allah serta hikmahnya

      Allah sudah memilih pada dalam ibadah haji manasik-manasik yg harus dilakukan oleh kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji, supaya mereka menerima pahala yg agung dari allah. Manasik-manasik tersebut diberi nama syiar-syiar haji. Mengagungkan syiar-syiar ialah indikasi takwa.

Allah telah berfirman :serta barangsiapa yg menggunakan syiar-syiar allah, maka sesungguhnya itu muncul dari ketakwaan”. (qs. 22 : 32).

Pada pelaksanaannya syiar-syiar haji selalu dihubungkan dengan daerah-kawasan tertentu. Karena di tempat-kawasan itu telah terjadi suatu insiden bersejarah yang patut dijadikan model, guna membersihkan jiwa serta memperkuat korelasi antara kaum muslimin. Tempat-daerah tadi bukanlah obyek berasal ibadah, namun hanyalah karena daerah-kawasan tersebut ada kaitannya menggunakan insiden-insiden bersejarah, dan  mengingatkan kita buat menghayati insiden yg terjadi di daerah itu.

  • Di wuquf setiap syiar-syiar haji mengingatkan kita menggunakan insiden yg terjadi yaitu tempat buat bertakarrub kepada allah serta kawasan mengevaluasi diri sendiri pada hadapan allah.
  • Ka’bah mengingatkan kita kepada bapak para nabi yaitu nabi ibrahim AS dan  putranya dia ismail waktu membentuk ka’bah ini, yg sesudah usai membangun, 


mereka berdua berdoa pada allah :ya yang kuasa kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh pada kamu serta (jadikanlah) di antara anak cucu kami umatnya yang tunduk patuh pada kamu serta tunjukkan kepada kami cara-cara serta kawasan-kawasan ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya engkaulah yg maha penerima taubat lagi maha penyayang”. (qs. 2 : 128).

Melakukan thawaf di sekeliling ka’bah berarti meneruskan cara ibadah yg dilakukan sang nabi ibrahim, ismail serta pengikut-pengikutnya, dan mempererat pertalian antara pemulaan islam menggunakan masa kini buat berpegang teguh pada agama islam. Nabi ibrahim artinya orang pertama yg menamakan kepercayaan  yg kita peluk sekarang, yaitu islam.

Ayat berikut ini mengungkapkan hal itu :“(ikutilah) agama orang tuamu ibrahim. Beliau (allah) sudah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan  (begitu pula) dalam (al-qur’an) ini, agar rasul itu sebagai saksi atas dirimu serta supaya kamu seluruh menjadi saksi atsa segenap insan”. (qs. 22 : 78).

Melakukan sa’i antara shafa dan  marwah berarti mengenang balik  peristiwa yang dialami sang hajar, ketika anaknya merasa kehausan, kemudian hajar berjalan bolak-kembali berasal shafa dan  marwah mencari mata air. Dia sendiri merasa kehausan yang sangat. Serta  tidak ada mukjizat dari allah, menggunakan keluarnya air zam-zam, maka dapat dipastikan bahwa dahaga akan menamatkan riwayat hajar dan  anaknya. Asal peristiwa ini dapat diambil konklusi, bahwa allah akan mencoba kaum muslimin dengan berbagai bencana. Jika mereka meminta pertolongan pada allah, maka allah akan menolong mereka dengan rahmat yg diberikan.

Melakukan kurban jua termasuk keliru satu syiar haji. Allah sudah berfirman :serta sudah kami jadikan buat engkau  unta-unta itu sebagian daripada syiar allah, engkau  memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama allah waktu kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (serta sudah terikat). Kemudian apabila sudah roboh (meninggal), maka makanlah sebagiannya dan  beri makanlah orang yang rela menggunakan apa yang ada padanya (yang tak meminta-minta) serta orang yg meminta. Demikianlah kami telah menundukkan unta itu kepada kamu, praktis-mudahan engkau  bersyukur”. (qs. 22 : 36).

Sembelihan ini dinamakan al-hadyu. Melaksanakan kurban ini menjadi tanda taat kepada allah dan  menjalankan perintah-perintah-nya, serta ungkapan rasa syukur atas nikmat-nikmat yg sudah diberikan sang allah.

Di dalam kurban ini, merupakan peringatan atas pengorbanan yg sudah dilakukan oleh nabi ibrahim dan  nabi ismail. Waktu itu nabi ibrahim mendapatkan wahyu berasal allah berupa impian supaya menyembelih anaknya, ismail.

Lalu ibrahim menceritakan hal ini kepada anaknya, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat berikut adalah :ibrahim berkata : “hai anakku, sesungguhnya aku  melihat pada mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. (qs. 37 : 102).

Kemudian dijawab oleh ismail menggunakan penuh rasa lapang dada terhadap pengorbanan demi membela jalan allah: “dia menjawab : “hai bapakku, kerjakanlah apa yg diperintahkan kepadamu; insya allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yg tabah”. (qs. 37 : 102).

Dalam menghadapi ujian yg berat ini, yg sang allah sengaja ditimpakan kepada mereka berdua, buat menguji sampai pada mana keikhlasan mereka terhadap-nya. Selesainya ibrahim hendak melaksanakan apa yg diperintahkan kepadanya, lalu allah mengubah nabi ismail dengan seekor domba. Serta allah menyelamatkan keduanya berasal percobaan yg teramat berat itu.

      Kurban yg dilakukan sang kaum muslimin saat haji adalah peringatan bagi apa yg sudah dilakukan sang nabi ibrahim dan  nabi ismail, dan  keikhlasan keduanya dalam menjalankan perintah allah. Kurban jua ialah rasa syukur atas diselamatkannya nabi ismail dari cobaan berat ini. Asal keturunan nabi ismail ini, muncullah nabi akhir zaman yaitu nabi muhammad saw.

      Kurban ini terbagi sebagai 2. Ada yang harus dan  terdapat yang sunnah. Yg kedua ini dilakukan sang orang-orang secara sukarela mengharapkan pahala berasal allah. Adapun yang pertama, memang sudah diwajibkan.

      Kurban hukumnya wajib bagi yg melakukan haji qiran, yaitu orang yg dalam niatnya membaringkan antara ibadah haji serta ‘umrah. Serta wajib  atas orang yang melakukan haji tamattu’ yaitu orang yang melakukan ihram terlebih dahulu, kemudian melakukan tahallul berasal ihramnya sambil menunggu sampai datangnya masa haji. Serta harus pula atas orang yg meninggalkan galat satu kewajiban haji, atau bagi orang yang melakukan larangan pada haji.

Memaknai sholat dengan batin !

Memaknai sholat dengan batin !

AJARAM MUSLIM - Memaknai sholat dengan batin !

     Apakah arti memaknai sholat menggunakan batin? Dari imam al-ghazali, makna batin pada sholat mempunyai banyak ungkapan, akan tetapi secara ringkas beliau imam ghazali merangkumnya ke pada pada enam perkara. Enam perkara tersebut ialah kehadiran atau menghadirkan hati, kefahaman atau taffahum, rasa hormat atau ta’dzim, rasa takut yang bersumber dari rasa hormat atau haibah, pengharapan atau raja’ serta rasa memalukan atau haya.

Apa maksud asal keenam perkara dalam sholat dengan hati atau batin?

Menghadirkan hati

     Sholat dengan menghadirkan hati memiliki makna mengosongkan dan  menjaga obrolan hati dari seluruh hal dan  perkara yg tidak ada kaitannya menggunakan amalan yang sedang dikerjakan. Demikian jua dengan pikiran, juga tidak boleh memikirkan asal selain perbuatan dan  hati, yg sedang terkait dengan amalan.

     Faktor penyebab kehadiran atau menghadirkan hati adalah perhatian utama atau himmah. Menggunakan perkataan lain adalah bahwa hati mampu hadir jika ada undangan kepada  yang  menjadi perhatian utama. Kehadiran atau menghadirkan  hati akan  terwujud manakala perhatian primer diarahkan kepada setiap perilaku.

     Perhatian primer bisa terarah jika kita dapat mengetahui secara kentara tujuan yang akan kita capai serta kita cari yaitu allah swt. Dan  merupakan saran menuju kepada allah swt.

Secara logika akal sehat akan berkata : bagaimana mungkin hati tidak hadir sedangkan yang terdapat pada hadapan kita artinya raja diraja pencipta alam serta seisinya, yg mana ditangan-nya lah segala kekuasaan, kerajaan, bahaya serta manfaat.

     Kehadiran hati hendaknya bukanlah sebuah keterpaksaan saja serta pula bukan hal yg diusahakan, sebab hati akan hadir kepada perhatian primer. Ketidakhadiran hati dalam perilaku ditimbulkan sebab perhatian primer tak tertuju kepada hal yg sebagai perhatian primer. Apabila demikian, maka hati akan tertuju pada perhatian-perhatian nafsu duniawi.

Inilah yang dianggap dengan kelalaian, karena bagaimana bisa kita sedang bermunajat menghadap kepada allah swt., sedangkan hati kita tidak menghadap pada allah swt.

Kefahaman atau tafahhum


     Kefahaman atau tafahum bisa diartikan menjadi peliputan hati yang mengetahui menggunakan benar  serta sahih setiap lafadz serta gerakan pada ibadah sholat. Pengetahuan asal pelaku sholat terhadap setiap ucapan atau lafadz, motilitas pada yg terbenam pada lubuk hati akan dapat memancarkan sebuah nasihat akhlakul karimah pada kehidupan. Di pada lafadz dan  gerak sholat yang dikendalikan oleh kehadiran hati akan dapat mengendalikan nalar serta fikiran dalam setiap ucapan dan gerak itu sendiri.

     Agar bisa menerapkan kefahaman atau tafahum pada sholat adalah dengan cara menghadirkan hati yg disertai dengan konsentrasi dalam berfikir dan  kesiagaan buat tidak menerima berbagai pikiran liar yang melintas. Buat bisa menolak berbagai lintasan pikiran yg menyibukkan merupakan dengan cara membebaskan diri berasal penyebab-penyebab yang bisa membuat pikiran tertarik kepada hal-hal tadi. Barangsiapa yg mencintai sesuatu pasti akan poly mengingatkannya. Maka menggunakan dengan demikian ingatan yg pada yg dicintai absolut akan melanda hati.

Rasa hormat

     Rasa hormat atau ta’dzim akan hadir dan  ada dari ma’rifah pada kemuliaan dan  keagungan asal allah swt. Siapa yang tidak diyakini keagungannya maka jiwa tidak akan mau mengagungkannya. Buah asal ma’rifah pada allah swt. Akan mengakibatkan khusyu’ ketundukan kepada allah swt.

     Pada samping ma’rifat kepada allah, sebab lain yg dapat menyebabkan rasa ta’dzim adalah ma’rifat atau mengetahui serta mengenal akan kehinaan diri, bahwasanya manusia tidak mempunyai kuasa apapun.

     Butir dari kedua ma’rifat ini akan membentuk rasa tidak berdaya dan  pasrah,  maka menggunakan demikian akan membentuk rasa hormat atau ta’dzim kepada allah swt.
Rasa takut yang bersumber asal rasa hormat

     Rasa takut artinya suatu keadaan jiwa yg lahir serta tumbuh dari ma’rifatullah akan kekuasaan allah swt, akan eksekusi-nya, akan efek kehendak allah swt pada dirinya. Semakin pada serta tinggi pengetahuan dan  ma’rifat seseorang terhadap allah swt. Akan membuahkan seseorang semakin takut kepada allah swt.

Penuh pengharapan atau raja’

     Harapan atau pengharapan akan muncul karena telah adanya keyakinan akan janji-janji allah swt. Dan  pengetahuan  tentang  keindahan kreasi-nya, kelembutan-nya dan  keluasan nikmat-nikmat allah swt.

Rasa malu

     Rasa atau perasaan malu akan muncul serta hadir berasal perasaan serba kekurangan pada mengerjakan amal beribadah serta jua dari pengetahuan diri akan ketidakmampuan diri pada menunaikan hak-hak allah swt.

     Rasa membuat malu ini akan semakin bertenaga serta tinggi menggunakan mengetahui kekurangan, cacat dirinya, kurang lapang dada pada menjalankan beribadah, keburukan batinnya dan  kesamaan terhadap kehidupan duniawi dalam perbuatan ibadahnya.

     Pada samping itu rasa atau perasaan memalukan dapat juga timbul serta disebabkan sebab pengetahuan bahwa allah swt. Merupakan maha mengetahui segala rahasia dan  lintasan hati hingga yang sekecil-kecilnya.

Demikian makna sholat menggunakan batin. Mari kita memohon pada allah swt. Menggunakan petunjuk serta hidayah-nya kita bisa menjalankan makna sholat menggunakan batin. Amin...

Perintah shalat lima waktu !

Perintah shalat lima waktu !

AJARAM MUSLIM - Perintah shalat lima waktu !

     Shalat 5 saat salah  satu ibadah yang dianjurkan artinya melakukan shalat lima saat. Shalat lima ketika artinya merupakan bepergian ruhani seorang hamba menuju tuhannya, serta merupakan pelarian kesibukan duniawi.

     Pertama kali yg harus dilakukan dalam shalat artinya menghadap ke arah kiblat, lalu membuka shalat dengan kalimah (allahu besar ” (allah maha akbar). Kalimah ini menjadi pembukaan shalat, dan  adalah ikrar bahwa allah-lah yg maha akbar dari segala sesuatu yang disebut besar  serta ditaati pada alam wujud ini.

     Kemudian, selesainya itu seseorang yg sedang menjalankan shalat bermunajat kepada allah dengan membaca surat al-fatihah. “segala puji bagi allah, ilahi semesta alam, maha pemurah lagi maha penyayang”. (qs. 1 : 1 – dua).

     Ayat ini mengingatkan agar memuji allah atas semua nikmat dan  rahmat yg telah allah berikan kepadanya; suatu peringatan bagi insan supaya menyayangi allah yg telah menyampaikan segala nikmat pada mereka, serta ialah bisikan jiwa antara manusia serta tuhannya: “maha pemurah lagi maha penyayang”. (qs. 1 : 2).

     Menggunakan sifat rahman serta rahim yang dimiliki allah, maka jiwa manusia akan merasa tentram serta tidak khawatir. Tidak sebagaimana yang terdapat pada kepercayaan -kepercayaan  lain yang mempunyai dewa poly. Mereka menyembah dewa-tuhannya karena terdorong oleh rasa takut dan  khawatir akan mendapat marah asal ilahi-yang kuasa tersebut. Yg demikian itu sebagaimana yang digambarkan sang kisah-kisah yunani.

Setelah itu bacaan surat al-fatihah mengingatkan seorang muslim pada kekuasaan allah kelak di hari pembalasan:yg menguasai hari pembalasan”. (qs. 1 : 4).

Ayat tadi menyatakan bahwa allah menguasai hari pembalasan; mengingatkan setiap orang untuk tak berbuat sewenang-wenang, karena segala sesuatunya akan menerima pembalasan dari allah berdasarkan tingkah laku  yang diperbuat sang seseorang hamba. Selesainya itu ayat selanjutnya mengingatkan pada keesaan tuhan:hanya engkaulah yg kami sembah dan  hanya pada engkaulah kami mohon pertolongan”. (qs. 1 : lima).

Ayat ini menyatakan bahwa tak ada penghambaan diri pada seseorang, atau kepada hawa nafsunya sendiri, atau tunduk pada khurafat dan  cerita-cerita dongeng. Seseorang muslim dianjurkan agar memohon petunjuk kepada allah sebagaimana yg dinyatakan pada ayat berikut : “tunjukilah kami jalan yg lurus, (yaitu) jalan orang-orang yg telah kamu anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yg dimurkai serta bukan (jua jalan) mereka yg sesat”. (qs. 1 : 6 – 7).

Ayat tadi memberi isyarat agar seorang muslim meniti jalan yang sahih dan  menjauhi jalan kesesatan. Sesudah itu, seseorang yang sedang melakukan shalat dianjurkan buat membaca ayat-ayat atau surat-surat yg mengandung hidayah bagi dirinya.

Lalu ia melakukan ruku’ sambil membungkukkan badan, sehingga tampak punggungnya lurus dan  homogen.

Kedua tangannya bertopang pada lututnya sambil mengucapkan kalimah :


 سبحان ربي العظيم

maha kudus tuhanku yg maha agung

Selesainya ruku’, ia mengangkat badannya sambil berkata :


 سمع الله لمن حمده, ربنا ولك الحمد

allah maha mendengar orang yang memuji-nya (mengabulkan segala permintaannya)”.

Kemudian beliau berdiri tegak sambil mengucapkan kalimah :


ربنا ولك الحمد
 “ya tuhanku bagimu segala puji”.

Lalu dia melakukan sujud menggunakan meletakkan keningnya pada tanah sembari mengucapkan kalimah :


 سبحان ربي الأعلى

“maha kudus tuhanku serta maha luhur”.

     Setelah itu, beliau harus mengangkat kepalanya, terus duduk, dan  beliau berdiam sejenak (tuma’ninah), kemudian melakukan sujud buat yg kedua kalinya, dan  pada sujud ini dia membaca kalimah sebagaimana sujud pertama. Sujud merupakan saat-waktu yang paling dekat menggunakan seorang hamba menggunakan tuhannya, berdasarkan pandangan islam.

Semua perbuatan ini, secara holistik dinamakan raka’at shalat. Kemudian seseorang wajib melakukan perbuatan mirip semula. Dalam shalat shubuh dua raka’at; shalat zhuhur empat raka’at, shalat ashar empat raka’at, shalat maghrib tiga raka’at serta shalat isya’ empat raka’at.

Itulah sekedar kabar singkat tentang shalat. Sengaja kami jelaskan secara singkat tanpa memberikan hal-hal lain yang masih termasuk dalam pekerjaan shalat, sebab pembahasannya terlalu panjang. (bagi para pembaca yg ingin memperdalam pengetahuan bab shalat, silakan baca kitab   ruh al ‘ibadah, sang pengarang, dan  buku-buku lainnya yang membahas persoalan ini. )

Di dalam agama islam, shalat dilakukan oleh setiap individu muslim yang wajib  dihayati tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Seluruh pekerjaan shalat itu, terkandung rahasia-rahasia yg dalam, sebagai akibatnya membutuhkan seorang pakar kepercayaan  yg mampu menyampaikan penjelasan. Karenanya, setiap individu muslim wajib  melaksanakan sendiri kewajiban ini.

Sebagai perindu sholat dan  perindu allah

Sebagai perindu sholat dan perindu allah

AJARAM MUSLIM - Sebagai perindu sholat dan  perindu allah

     Pada kesempatan yang latif ini, mencoba memaparkan tentang cara menjadi orang yang selalu rindu pada allah swt. Yg merindukan sholat termasuk cara mencapai sholat yang khusyu’ dan  juga ciri-ciri orang yg selalu merindukan sholat. Ibadah sholat ialah mi’rajnya kaum muslimin ke hadirat allah swt. Sholat adalah alah satu kunci dalam meraih surga  terutama bagi hamba-hamba allah yg khusyu’ dalam mengerjakan sholat.

Pengertian sholat secara bahasa mirip yang telah kita ketahui ialah sholat ialah doa. Terdapat juga yg merelasikan kata sholat menggunakan istilah washala yg asal berasal istilah dasarnya yg adalah artinya bersatu serta tiba.

Pada rangka buat mencapai sholat yang khusyu’, terlebih dahulu yg pertama adalah melihat ke dalam hati kita masuk ke pada kategori apakah hati kita?. Apakah kategori hati yg rindu kepada allah swt ataukah masuk ke pada kategori hati yang takut kepada allah swt?

Pada pada ilmu tasawuf, ada mazhab yang namanya mazhab cinta. Penganut mazhab ini merupakan orang-orang yg mendekat pada allah asal unsur cinta. Apabila kita menginginkan kekhusyukan, maka hendaknya kita menyebarkan keliru satu sifat ini. Bila kita merindukan allah swt, maka kita seharusnya menyayangi allah swt. Serta segala sesuatu yg berhubungan dengan allah swt.

Berdasarkan ibnu arabi, pembagian cinta di bagi sebagai tiga jenis cinta, yaitu :


Cinta natural.


     Pada kata ibnu arabi dianggap al-hubb al-tabi’i yaitu cinta yang sifatnya natural. Model cinta natural ialah cinta seseorang ayah pada anaknya, atau cinta seseorang kepada seorang yg lain yang berbuat kebaikan kepadanya. Ciri dari cinta natural artinya sangat bersifat subyektif dan  cintanya artinya mementingkan diri. Di hewan jua mempunyai cinta natural mirip ini.

Cinta yg seperti ini merupakan rasa cinta pada orang lain yang berbuat kebaikan karena merasa mendapat laba atau diuntungkan. Menurut ibnu arabi, apabila cinta seseorang kepada sesuatu atau orang lain dikarenakan diuntungkan atau pamrih, maka cinta seperti ini artinya tidak lebih dari cinta binatang.


Cinta supranatural


     Cinta ini tidak dimiliki sang hewan serta hanya dimiliki oleh insan. Model cinta supranatural misalnya cinta seorang bunda yg menyayangi anaknya tanpa mengharapkan pamrih atau balasan berupa laba. Seorang bunda yang demikian tidak akan mengharapkan kepada anaknya agar memberi keuntungan kepada dirinya nanti, namun cintanya artinya semata-mata keikhlasan mak   buat merawat anaknya.

Maka hendaknya buat selalu rindu pada allah swt. Usahakan dan  seharusnya seorang muslim berbagi cinta supranatural seperti ini.

Cinta tak mampu dibayangkan


     Berdasarkan bunda arabi, cinta mirip ini merupakan cintanya rasulullah nabi muhammad saw. Kepada allah swt. Serta atau cintanya waliyullah atau para kekasih allah swt. Cinta seperti ini disebut cinta hubb al-yang kuasa. Hati yg tidak melihat ibadah sholat semata menjadi keharusan atau kewajiban, namun menjadi media untuk bertemu pada allah swt.

Rasulullah nabi muhammad saw. Mengatakan bahwa sholat merupakan adalah lahan nyawa dan  cahaya matanya. Oleh karena itu, bila datang waktunya sholat, nabi berkata : qurratu ‘aini al-shalah yg merupakan cahaya mataku ialah sholat.

Karakteristik atau tanda-tanda orang yg merindukan sholat dan  rindu allah

Tanda atau ciri orang yg rindu sholat dan  rindu allah diantaranya :

     Mereka acapkali menunggu ketika datangnya sholat. Layaknya mirip orang yg selalu menantikan kedatangan dari oleh kekasih. Sholat dijadikan sebagai ajang atau media bertemu dengan kekasih yaitu bertemu dan  berkomunikasi menggunakan allah swt. Hal mirip inilah yang disebut menggunakan hati yg rindu atau qalbun isyqiy

Mereka bersungguh-sungguh menggunakan allah kekasihnya. Rasulullah saw. Merupakan pribadi yg sempurna, serta pada setiap sholatnya dia senantiasa berdoa pada allah : ya allah, berikanlah saya kesungguhan dalam ibadahku.

Senang serta suka  bersendirian menggunakan allah (kekasihnya). Sehingga orang yg rindu kepada sholat dan  rindu kepada allah, mereka senantiasa berkhalwat serta menumpahkan semua pendalaman jiwanya dengan mengerjakan sholat tahajud.

Pada sebuah kitab karangan abu said al-kharraj mengambarkan bahwa pengertian sholat secara tarekat adalah keakraban serta syari’at merupakan dedikasi, sedangkan secara hakikat artinya penyatuan ke haribaan ilahi.

Menurut abu said al-kharraj, dalam kitabnya tersebut, sholat seorang dikatakan legal, manakala sholat yg beliau lakukan dapat membentuk pribadinya sebagai pribadi yang berperilaku positif serta bisa menghindari serta terhindar asal melakukan perbuatan-perbuatan yang negatif.

Jua berdasar abu said, sholat yg khusyu’ akan bisa mencapai al-uns yg adalah ialah keintiman. Serta orang yang yg bisa menyebarkan qalbun isyqiy, maka mereka akan dapat merasa dan  meraih keintiman serta berbahagai dengan kekasihnya yaitu allah swt.Subhanallah wabihamdihi....

Istiadat istinja' serta membuang hajat

Istiadat istinja' serta membuang hajat

AJARAM MUSLIM - Istiadat istinja' serta membuang hajat


Ada tata-kesopanan yang disuruh laksanakan sebaik-baiknya oleh setiap muslim, di kala membuang hajatnya serta beristinja’, yaitu:

1. Kesopanan yg berkaitan menggunakan daerah buang hajat

Saat buang air kecil maupun besar , hendaklah menghindari: A. Jalan yang dilewati orang, atau tempat duduk mereka, karena hal itu akan merusak mereka Muslim (269) dan  lainnya telah meriwayatkan asal abu hirairah ra, bahwa nabi saw bersabda:

اِتَّقُوااللَّعَّانَيْنِ، قَالُوا: وَمَاللَّعَّانَانِ؟ قَالَ الَّذِى يَتَحَلَّى فِىْ طَرِيْقِ النَّاسِ اَوْفِى ظِلِّهِمْ

hindarilah sang kamu sekalian dua kasus yg mendatangkan kutukan”. Para teman bertanya: “apakah dua perkara yg mendatangkan kutukan itu?” jawab nabi: “orang yang membuang hajatnya di jalan yang dilalui orang, atau ditempat mereka berteduh”.

B. Lubang pada tanah atau dinding atau semisalnya, karena kadang-kadang mendatangkan bahaya.

Boleh jadi, di situ terdapat hewan yang berbahaya, mirip ketonggeng atau ular, yg akan keluar lalu menyakiti orang yang tidak sopan itu: atau boleh jadi, pada situ terdapat hewan lemah yang ersiksa karena itu.Abu daud (29) sudah meriwayatkan asal abdullah bin sarjis, beliau mengatakan:

 نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ يُبَالَ فِى الْجُحْرٍ

Rasulullah telah melarang mengencingi lubang. Maksudnya, lubang di tanah

C. Pada bawah pohon yang berbuah, demi menjaga supaya buahnya itu tidak kotor saat jatuh, baik butir itu bisa dimakan atau pun yang diambil fungsinya. Menggunakan demikian, hati kita tidak merasa jijik kepadanya.

D. Air yang tergenang. Sebab, akan mengakibatkan hati kita merasa jijik kepadanya, Bila air itu poly serta tidak bisa berubah sang najis. Serta akan mengakibatkan air itu tidak berguna, Jika mampu berubah sebab najis, atau kurang berasal dua kulah.Muslim (281) dan  lainnya sudah meriwayatkan asal jabir ra, dari nabi saw:

 اَنَّهُ نَهَى اَنْ يُبَالَ فِى الْمَاءِ الرَّاكِدِ

Bahwasanya dia melarang kencing pada air yang tergenang.Berak di situ tentu saja lebih jelek serta lebih patut tidak boleh. Dan  embargo di sini berarti karahah. Sedang imam an-nawawi menukilkan, bahwa laranga di sini buat tahrim. (lihat: syarah muslim (3/187).

2. Kesopanan yg berkaitan menggunakan keluar-masuk ke kawasan buang hajat.

    Orang yang buang hajat, mustahab baginya mendahulukan kaki kirinya waktu memasuki jamban, dan  mendahulukan kaki kanan waktu ke luar. Sebab kaki kiri lebih sempurna bagi kawasan-daerah kotor serta najis.

Serta hendaknya jangan menyebut nama allah ta’ala. Begitu pula, menyebut nama siapa saja yang dihormati.Serta mustahab jua baginya mengucapkan dzikir-dzikir serta doa-doa yg otentik berasal dari rasululah saw, sebelum masuk serta setelah ke luar berasal jamban.

 بِاسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ(رواه البخارى 142 ومسلم 375

Menggunakan menyebut nama allah, ya allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-mu asal setan-setan lelaki serta setan-setan perempuan   (h.R. Al-bukhari: 142, dan  muslim: 375)

Al-khutbuts: jamak dari khabits. Dan al-khaba’its: jamak dari khabitsah. Sedang maksudnya setan-setan lelaki dan  perempuan  . Dan sehabis ke luar dari jamban, ucapkanlah:

 غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الََّذِى اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذَى وَعَافَانِى، الْحَمْدُ لِلَّهِ الََّذِى اَذَاقَنِى لَذَّتَهُ، وَاَبْقَى فِىَّ قُوَّتَهُ، وَدَفَعَ عَنِّى اَذَاهُ(رواه ابو داود 30 والتّرمذى 7 وابن اجه 301 والطبرانى)

Saya memohon kepada-mu. Segala puji bagi allah yg telah menghilangkan dariku penyakit serta memberiku kesehatan. Segala puji bagi allah yg telah membentuk saya dapat merasakan kelezatannya, meninggalakan padaku kekuatannya, dan  menolak dariku bahayanya. (h.R. Abu daud: 30, at-thirmidzi: 7, ibnu majah: 301, serta at-thabrani).

3. Kesopanan yang berkenaan dengan arah.

     Membuang hajat haram dilakukan menggunakan menghadap atau pun membelakangi kiblat, Bila hal itu dilakukan di daerah terbuka dan  tak ada penutupnya yg relatif tinggi sampai menutupi aurat waktu itu. Begitu juga, Jika dilakukan pada bangunan yg tak sengaja disediakan untuk buang hajat, sedang kondisi-syarat epilog – sebagaimana tadi tadi – tidak terpenuhi. Serta dipersyaratkan pula, jauhnya asal penutup itu tidak lebih asal 3 hasta orang biasa (= ± 150 centimeter). Adapun Bila bangunan itu sengaja disediakan untuk buang hajat, maka boleh saja menghadap ataupun membelakangi kiblat. Al-bukhari (381), dan  muslim (26) sudah meriwayatkan dari abu ayub al-anshari ra, dari nabi saw, beliau bersabda:

 اِذَااَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوْاالْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا بِبَوْلٍ اَوْ غَائِطٍ، وَلَكِنْ شَرِّقُوْااَوْ غَرِّبُوْأ

Jika engkau  mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kamu menghadap atau membelakangi kiblat, ketika buang air kecil atau pun akbar. Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat. (dikatakan ke timur atau ke barat, karena hadits ini disampaikan di madinah yang terletak disebelah utara kiblat. –pen)

Hal tadi pada atas merupakan khusus tentang tempat terbuka atau tempat-kawasan lain yang semakna dengannya, yang tidak berdinding. Adapuin dalil pengkhususan itu ialah hadits yg sudah diriwayatkan oleh al-bukhari (148) dan  muslim (266) serta lainnya, asal ibnu umar ra, beliau mengatakan:

اِرْتَقَيْتُ فَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ حَفْصَةَ لِبَعْضِ حَاجَتِى فَرَاَيْتُ النَّبِيََّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ

Jadi, hadits yg pertama diartikan bagi tempat yang tidak disengaja disediakan buat buang hajat, serta tempat-kawasan lain yg semakna dengannya, yg tidak ada dindingnya. Sedang hadits kedua diartikan bagi kawasan yang sengaja disediakan untuk itu, serta tempat-daerah lain yang semakna dengannya. Pengertian ini ialah pengakuran pada antara dalil-dalil. Pada di itu permanen saja makruh membuang hajat – dengan menghadap atau membelakangi kiblat – di daerah yang tidak disediakan buat itu, sekalipun berdinding

4. Kesopanan yg berkenaan menggunakan perilaku orang yg buang hajat.

    Orang buang hajat hendaknya bersandar di kaki kirinya, dengan menegakkan kaki kanan. Jangan memandang ke langit, ke farjinya maupun pada kotoran yang keluar darinya. Sebab hal itu tidak patut dilakukan. Dan  makruh pula bagi orang-orang yang buang hajat, berbicara atau melakukan pekerjaan selagi membuang hajatnya.Mulim (370) serta lainnya telah meriwayatkan berasal ibnu umar ra:

 اَنَّ رَجُلً مَرَّ وَرَسُوْلُ الله صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُوْلُ: فَسَلَّمَ عَلَيَهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

Bahwasanya ada seseorang lelaki lewat saat rasulullah saw buang air mungil. Orang itu menyampaikan salam pada beliau, tetapi dia tak menjawabnya.Dan diriwayatkan jua oleh abu daud (15) serta lainnya, dari abu sa’id ra, dia berkata; pernah saya aku  mendengar nabi saw bersabda:

 لاَيَخْرُجُ الرَّجُلاَنِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ، كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِماَ يَتَحَدَّثَانِ فَاِنَّ اللهََ عَزَّ وَجَلَّ يَمْقُتُ عَلىَ ذَلِكَ.

Jangan hendaknya 2 orang lelaki keluar buat mendatangi kawasan buang hajat, menggunakan menyingkapkan auratnya sambil mengobrol. Sebab allah ‘azza wa jalla memurkai perbuatan seperti itu.Dan  perbuatan-perbuatan lain bisa dikiaskan kepada berbicara ini. Seperti makan, minum, mengobrol dan  lain sebagainya.

5.Memakai tangan kiri waktu beristinja’

     Orang yg buang hajat hendaklah memakai tangan kirinya saat membersihkan tempat keluarnya kotoran, baik menggunakan air juga menggunakan batu serta semisalnya. Sebab, tangan kiri lebih patut buat itu. Dan  makruh memakai tangan kanan buat pekerjaan ini. Demikian pula makruh mengusap zakarnya menggunakan tangan kanan. Dan  jikalau pun benar-benar memerlukan memegang zakar, sebab harus membersihkannya menggunakan batu atau benda padat lain semisalnya, maka peganglah benda itu menggunakan tangan kanan tanpa menggerakkannya, kemudian peganglah zakar dengan tangan kiri, serta gerakkanlah beliau sampai tempat keluarnya kotoran itu.

 اِذَابَالَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَأْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بَيْمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهْ

Apabila seseorang asal kamu sekalian kencing, maka janganlah sekali-kali memegang zakarnya menggunakan tangan kanannya, jangan juga beristinja’ menggunakan tangan kanannya.

Jalan masuk nirwana menggunakan sujud

Jalan masuk nirwana menggunakan sujud

AJARAN MUSLIM - Jalan masuk nirwana menggunakan sujud

     Para sahabat ajaran islam, telah dipaparkan terdahulu wacana norma sujud yang benar dalam sholat, bacaan serta doa sujud syukur , pengertian, karena sampai cara melakukan sujud sahwi. Di kesempatan kali ini para teman ajaran islam akan dipaparkan mengenai jalan masuk surga  dengan sujud yg termasuk pada antaranya bagaimanakah sujud yg diinginkan allah, makna dan  hakikat dan  arti dari sujud pada sholat serta keutamaan sujud.Pemaparan kali ini ialah berdasarkan sebuah kisah-kisah cerita yg diambil berasal dalil hadits nabi muhammad saw.

Kisah cerita masuk nirwana karena sujud


     Sebuah kisah cerita yang diriwayatkan dari rabi’ah bin ka’b bahwa dia mengatakan: saya menginap menggunakan beliau rasul saw. Dan  saya membantu nabi saw. Dalam menyiapkan air buat wudhu serta kebutuhan-kebutuhan yg lain. Kemudian nabi muhammad saw bersabda: mintalah sesuatu kepadaku!. Kemudian rabi’ah menjawab: saya meminta buat dapat menemanimu pada surga . Nabi saw. Menjawab: bukan permintaan yang lainnya?. Lalu rabi’ah menjawab lagi menggunakan jawaban, ya, hanya itu saja. Kemudian rasul saw. Bersabda: “bantulah aku  buat dirimu dengan memperbaiki sujud. (hr. Ahmad, muslim, an-nasai, abu daud).


     Dari hadits pada atas, bisa menyampaikan berita kepada kita bahwa jalan masuk nirwana ialah dengan memperbaiki sujud. Memperbaiki sujud dalam anjuran hadits di atas bisa diartikan anjuran buat memperbanyak sujud, ruku dan  mengerjakan sholat fardhu yang ditambah menggunakan sholat sunnah sebagai pelengkap sholat fardhu. Sebagai akibatnya menggunakan demikian akan membuka jalan kepada nirwana.

     Dalam islam sujud ialah ialah ibadah yang spesial   atau Istimewa. Hal ini dikarenakan sujud ialah keliru satu rukun pada sholat yang dikerjakan menggunakan cara meletakkan tujuh anggota badan di atas tempat sujud (di atas tanah). Tujuh anggota badan tadi artinya muka, ke 2 telapak tangan, ke 2 lutut, dan  ke 2 ujung kaki. Menggunakan demikian posisi sujud dapat merefleksikan sikap merendah di hadapan allah swt yang maha agung, maha besar , maha kuasa atas segala sesuatu hal.

Firman allah swt. Dalam kitabullah al-qur’an:


 كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب۩ ١٩

Ialah: sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; serta sujudlah dan  dekatkanlah (dirimu kepada yang kuasa). (qs al-'alaq:  19 )

Sujud secara filosofi mengandung makna serta arti yg pada. Pada sujud mengandung hakikat arti ketawadhuan dalam diri seseorang kepada sesama umat manusia. Dengan sujud pada diri seorang akan terpancar sinar keimanan dan  jua kelembutan yg tercermin melalu wajahnya. Hal yang demikianlah yg dikatakan sebagai bekas sujud yg diharapkan sebagai amalan penolong seseorang buat mampu masuk nirwana.

Setiap sekali sujud akan mengangkat satu derajat serta menghapus dosa.


    Dalam kisah cerita yg lain, suatu saat mi’serta bin abi tholhah bertemu menggunakan tsauban yaitu seseorang budak nabi muhammad saw, mi’serta bertanya sampai tiga kali kepada tsauban menanyakan hal yang sama. 3 pertanyaan yang sama berasal mi’serta kepada tsauban merupakan “beritahukan kepadaku amalan apa yg bila aku  melakukannya maka allah akan memasukkanku ke pada surga ?.

     Sehabis pertanyaan yg ketiga, barulah tsauban menjawab pertanyaan itu serta mengatakan: aku sudah bertanya hal tersebut pada nabi saw. Dan  kemudian nabi bersabda: engkau  harus memperbanyak sujud sebab sesungguhnya tidaklah engkau  sujud setiap kali kecuali allah akan mengangkatmu satu derajat dan  menghapuskan dengannya satu dosa. (hadits riwayat muslim, turmudzi, an-nasa’i).

    Nabi muhammad saw. Menyindir kepada orang-orang yg cepat pada sujudnya dengan berkata bahwa mereka diibaratkan mematuk mirip seekor ayam jago yg mematuk butiran makanan. Menggunakan insinuasi ini, bisa kita ambil pelajaran bahwa dianjurkan bagi kita pada sujud ketika mengerjakan sholat hendaknya diperpanjang terutama jika sholat sendirian atau sholat munfarid. Sujud yang berfokus akan meninggalkan bekas pada wajah-wajah orang mukmin.

Firman allah swt.:

تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ

Merupakan: engkau  lihat mereka ruku´ dan  sujud mencari karunia allah dan  keridhaan-nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (qs. Al-fath 29) .

Cerminan bekas sujud


     Dari ayat pada atas jelas bahwa bekas sujud akan tercermin dan  tampak dalam setiap muslin melalu wajahnya. Pada antara cerminan yang terpancar dalam wajah asal bekas sujud merupakan cerminan ketundukan akan keagungan allah swt, kerendahan hati pada sesama insan, kelembutan, menundukkan pandangan mata, senyuman, selalu membasahi ekspresi dengan mengingat allah dengan senantiasa dzikir, perilaku mengasihi dan  mengasihi orang fakir miskin serta anak yatim. Subhanallah.....

     Pada hadits qudsi diterangkan rasulullah saw. Berkata: saya hanyalah akan menerima sholat dari orang yang tawadhu (rendah hati) terhadap keagungan-ku, tak arogan terhadap makhluk-ku, tidak terus menerus mendurhakai-ku, senantiasa memakai siangnya buat dzikir kepada-ku, menyayangi anak yatim, janda-janda, fakir, serta menyayangi orang yg tertimpa musibah (hr. Al-bazzar).

Memang indikasi hitam di dahi orang muslim mampu dijadikan sebagai galat satu ciri bahwa seorang acapkali mengerjakan ibadah sholat. Akan tetapi, bekas sujud yang dikehendaki allah adalah cerminan sikap tawadhu atau rendah hati, sifat kelembutan, afeksi serta kepedulian pada sesama yang dipancarkan pada paras setiap muslim.

Itulah penerangan secara ringkas perihal sujud yang dapat membawa ke surga , orang yang sering mengerjakan ibadah sholat menggunakan khusyu’, otomatis mereka acapkali mengerjakan sujud yg sahih-benar mengerjakan ibadah hanya sebab allah serta mengharap ridhonya. Maka bekas sujud ini akan tercermin wajahnya serta juga dalam sikap kehidupan sehari-hari menjadi eksklusif yang berakhlak mulia.

Apa itu adab ? serta cara-cara istinja

Apa itu adab ? serta cara-cara istinja

AJARAM MUSLIM- Apa itu adab ? serta cara-cara istinja

     Istinja’ adalah menghilangkan najis atau menipiskannya dari lubang kencing atau memahami. Asal asal kata an-naja’, adalah terlepas berasal penyakit; arai asal an-najwah yang merupakan: tanah tinggi; atau dari an-najwu, artinya: suatu yg keluar berasal dubur. Bersuci semacam ini pada syara’ disebut istinja’, karena orang yang beristinja’ berusaha melepaskan diri berasal penyakit dan  berupaya menghilangkannya asal dirinya, serta pada biasanya berlindung pada kembali gundukan tanah yang cukup tinggi dan  semisalnya, supaya bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang.

Istinja’ hukumnya harus, hal mana ditunjukkan oleh sabda rasulullah saw, sebagaimana yang akan kita bahas nanti.


Alat istinja’


Istinja; boleh dilakukan menggunakan air mutlak. Cara inilah yang utama pada bersuci dari najis, pada samping boleh jua menggunakan menggunakan benda padat apa saja, berasal kasat hingga bisa menghilangkan najis, mirip batu, daun dsb.

     Akan tetapi yg lebih utama, hendaklah pertama-tama berisitinja; dengan batu dan  semisalnya, lalu barulah memakai air. Sebab, batu itu bisa menghilangkan ujud najis, sedang air yg dipergunakan selesainya itu dapat menghilangkan bekasnya tanpa kecampuran najis. Tetapi demikian, kalau hendak memakai keliru satu pada antara keduanya, tentu airlah yg lebih afdhal, karena ia menghilangkan ujud najis dan  bekasnya sekaligus, lain halnya selain air. Adapun jikalau hanya menggunakan batu dan  semisalnya, maka dipersyaratkan benda yang dipergunakan itu cukup kemarau; hendaklah dipergunakan selagi yang keluar berasal qubul atau dubur itu belum kering; kotoran yang keluar itu jangan sampai melampaui hingga pada bagian atas pantat, atau bagian atas pada zakar, atau wilayah lebih kurang liang kencing di wanita; kotoran itu jangan hingga berpindah berasal tempat yang dikenainya sewaktu keluar. Demikian pula dipersyaratkan, benda yg dijadikan indera pengusap itu tidak kurang dari 3 batu, atau 3 benda lain penggantinya. Jikalau menggunakan tiga benda itu belum jua bersih kawasan munculnya kotoran tersebut, maka boileh ditambah, serta disunatkan jumlahnya gasal: 5, tujuh dan  seterusnya, umpamanya.

Al-bukhari (149) dan  muslim (271) telah meriwatkan berasal anas bin malik ra, beliau bersabda:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَاَحْمِلُ اَناَ وَغُلاَمٌ

Pernah rasulullah saw masuk kakus. Maka, aku  beserta seorang anak sebaya aku  membawakan sebuah bejana berisi air dan  sebatang tombak pendek. Kemudian beliau beristinja’ dengan air itu.

  • Al-khala’: tempat kosong, maksudnya kakus.
  • Idawah: bejana mungil dari kulit.
  • anzah: tombak pendek yg ditancapkan di depan daerah sujud, sebagai pembatas.
  • Yastanji: membersihkan diri berasal bekas najis.


Al-bukhari (155) serta lainnya, jua meriwayatkan berasal ibnu mas’ud ra, dia mengatakan:

 اَتىَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ، فَاَمَرَنِى اَنْ اَتِيَهُ بِثَلَثَةِ اَحْجَارٍ

Nabi saw mendatangi kawasan membuang hajat, lalu dia menyuruh aku  membawakan buat beliau tiga butir batu. Al-gha’ith: tanah konkaf kawasan membuang hajat; dan  dipergunakan juga buat menyebut sesuatu yang keluar dari dubur.

Abu daud (40) dan  lainnya meriwayatkan asal ‘aisyah ra, bahwa rasulullah saw bersabda:


 اِذَا ذَهَبَ اَحَدُكُمْ اِلَى الْغاَئِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلَثَةِ اَجْحَارٍ يَسْتَطِيْبُ بِهِنَّ، فَاِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ.

Apabila seseorang dari engkau  sekalian pergi membuang hajat, maka hendaklah membawa serta tiga butir batu buat beristinja’. Sesungguhnya 3 batu itu akan mencukupinya.

Yastathibu: menyehatkan diri, maksudnya: beristinja’. Diklaim demikian, karena orang yang beristinja’ itu menyehatkan dirinya menggunakan menghilankan kotoran dari temapt munculnya.

Sedang abu daud (44), at-tirmidzi (3099) dan  ibnu majah (357) meriwayatkan dari abu hurairah ra, berasal nabi saw, dia bersabda:

 نَزَلَتْ هَذِهِ اْلاَيَةُ فِى اَهْلِ قُبَاءَ

Ayat beikut ini turun mengenai orang-orang quba’: “di dalamnya (masjid quba’) terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan  allah menyukai orang-orang yang higienis (q.S. At-taubah 108).

Sabda nabi: “mereka beristinja’ menggunakan air, sang karenanya maka turunlah ayat ini.” muslim (2622) meriwayatkan juga berasal salman ra, berasal rasulullah saw, dia bersabda:

 لاَ يَسْتَنْجِى اَحَدُكُمْ بِدُوْنِ ثَلاَثَةِ اَجْحَارٍ

Janganlah seorang dari engkau  sekalian beristinja’ menggunakan kurang asal tiga butir batu. Sedang al-nukhari (160) dan  muslim (237) meriwayatkan berasal abu hurairah ra, bahwa rasulullah saw bersabda:

 وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوْتِرْ

Serta barangsiapa beristijmar, maka ganjilkanlah. Istijmara: beristijmar, yakni mengusapkan al-jimar (batu bata kecil).

Sholat , pembersih fisik dan mental

Sholat , pembersih fisik dan mental

AJARAM MUSLIM - Sholat , pembersih fisik dan mental

Asal abi hurairah ra.: aku  mendengar rasul saw bersabda:


 أَرَأَيْتُمْ لَوْأَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيْهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ٬ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ ؟ قَالُوْا ׃ لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ׃ فَكَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ اَلْخَمْسِ يَمْحُو اﷲُ بِهِنَّّ الْخَطَايَا٠

"bagaimana pendapat kalian seluruh, bila ada sebuah sungai berada persis pada depan pintu keliru seorang pada antara kalian, beliau mandi di sungai tersebut lima kali sehari, masihkah kotoran tersisa di tubuhnya? Kesemua sahabat kontan menjawab: tentu tidak. Nabi lantas berkomentar; begitulah perumpamaan kelima shalat (fardhu). Menggunakan kelimanya allah menghapus dosa-dosa." (hr. Turmudzi, nasa'i, ibnu majah). Sungai namanya!

Bukan kran air yg sesaat bisa dibuka serta ditutup balik . Bukan pula gudang, terkadang penuh, terkadang kosong mlompong. Sungai, melimpah-ruah airnya, mengalir monoton dalam kejernihan serta kesejukan. Tidak kenal pensiun, monoton memberi, dermawan tiada henti.

Maka sekiranya sungai ini melewati pintu keliru seseorang pada antara kita, dan  kita tekun mandi dengan limpahan airnya 5 kali sehari menggunakan tujuan membersihkan diri, maka kotoran nakal dan  najis mana yg mungkin berani iseng menempeli badan kita?

Ya allah, selarik soal yang disodorkan nabi saw kepada teman-sahabatnya yg ada waktu itu, kontan secara reflek mereka menyambut: "niscaya tiada kotoran yang berani iseng melekat padanya." sehingga nabi langsung melempar komentar: "begitulah kelima shalat fardhu, dengan kelimanya allah membersihkan dosa-dosa."

Persis seperti ungkapan nabi dalam hadis lain:


 النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ٠

"kebersihan, bagian dari (konsekuensi) iman."

Apabila analogi berbeda persoalan, begitu jua keterkaitannya. Iman, ialah makna tak berbentuk tersembunyi. Ad interim kebersihan, penampilan fisik luar. Lantas apa korelasi antara keduanya?

Iman, sebagaimana diceritakan nabi:


مَاوَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ٠

"iman, ialah keyakinan yg terhunjam pada hati, dan  dibuktikan menggunakan kegiatan nyata."

     Kebersihan artinya perwujudan konkret berasal sekian perwujudan iman. Kebersihan ialah duta sekaligus juru bicara iman. Dan  kamu wahai anak-anakku, niscaya tidak akan menemukan agama samawi yg mengintegrasikan antara perintah ma'nawiyah (spiritual) serta replika nyata pada kehidupan individu serta sosial sebagaimana islam.

Kita pulang merenungi hadis di atas.Keabadian menegakkan shalat merupakan sebagaimana limpahan air sungai yg mengalir tiada henti, serta mandi dengannya.Sepatah kata: sungai. Terbetik pada ingatan dan  hati, merupakan gambaran air susul- menyusul tidak terputus.

Dan  air dalam bepergian serta alirannya, terkadang bergulat menggunakan batu karang, dipangku galian, namun ia tetap saja melewati rintangan. Kamu lihat di saat bertanding beliau menggema dan  berombong-rom- bongan. Bersuara riuh, gaduh, serta berbuih, kemudian berloncatan melimpah-ruah seolah-olah suara serta lambang kemenangan.

Manusia tinggal akrab menggunakan sumur atau sungai. Syarat kapanpun, pasti memaksanya meminta donasi sumur atau sungai untuk membersihkan kotoran-kotoran yg menempeli di badannya. Dan  ini berlaku buat semua manusia dengan segala strata, disparitas profesi dan  rona kulitnya.

Persoalannya, tidak berhenti sebatas penampilan. Tidak relatif badan semata. Sebab insan tepat wajib  meliputi dua dimensi, jiwa serta raga.

Seseorang yg telah menunaikan shalat subuh misalnya, lantas ia berangkat kerja, bergulat pada dapur barah profesi kehidupan, merajut dan  mengumpulkan keuntungan, dan  bersabung menggunakan segala hal yg menggiurkan, pasti yg demikian akan menghipnotis jiwanya, atau bagai-manapun jua akan menceburkan dirinya dalam arus syahwat. Lantas bagaimana jalan mensucikan jiwa serta nurani yang ditempeli kotoran-kotoran semacam ini?

Agar tidak sampai menjadi golongan orang-orang yg hatinya terdapat raan (flek kotoran), lantas terakumulasi, beliau menghadap shalat zhuhur. Berdiri di hadapan allah, menunaikan kewajiban, mengadili diri sendiri, mengingat-jangan lupa dosa, meminta ampunan berasal rabb al baari.

Beliau seolah orang mandi menggunakan air sungai. Berlimpah, kudus, jernih. Beliau mandi, mengulang mandi lima kali dalam sehari.Lantas malam menyelimutinya. Dibawa tidur dengan dadanya. Ia tidak melakukan penyelewengan. Tidak dihinggapi kotoran. Karena orang tidur seperti seseorang mangkat . Lantas esok hari kembali menerjuni warna kehidupan baru.

Shalat wahai pemuda, pemudi di esensinya ialah bepergian. Bepergian menghadap allah yg maha tinggi, pada saat yang beraneka ragam. Mengisolir diri dari materi kebendaan bumi serta jagad raya, sejak takbir sampai taslim. Semenjak menghadap berdiri, sampai duduk selesai. Setiap patah istilah, setiap hentakan gerak, setiap pose gerakan, adalah tinggi dan  meninggi, tiada henti, pencucian diri, dan  penyucian diri.

Tahukah engkau  makna jeda (tuma'ninah) di antara berdiri, rukuk, serta sujud, serta saat dimulai menggunakan sepatah istilah allahu besar ?

Allahu besar  (allah maha akbar). Adalah, semua yg ada di pandangan serta perasaan kita, artinya mungil. Dunia dengan keluasannya, pada perasaan hati serta biji mata kita, menjadi mungil.

Allahu besar . Artinya, kita memerdekakan diri berasal kolonialisme atau penjajahan nafsu. Berasal kesesatan global serta kehidupannya. Sehingga kunjungan kita pada hadapan-nya merupakan suci dan  bersih.

Perpindahan shalat dari gerakan yg satu kepada gerakan lain, rukuk, sujud, dan  berdiri, mengingatkan kita akan makna satu persatu gerakan yang kita lakukan. Seolah mengilhamkan kepada jiwa mukmin yg bersih, keteladanan-keteladanan, jati diri, dan  semangat moral. Mengisinya menggunakan vitalisme abadi dan  kekuatan yg tiada terbatas.

Dan  tahukah engkau  makna pada ketika kita menyatu (bershaff) dan  menghadapkan diri? Kamu beserta miliaran saudaramu pada segala penjuru bumi. Dalam satu barisan, satu gerakan, satu arah, satu kata, satu aktivitas, satu penampilan. Tahukah engkau  bahwa itu berarti lambang persaudaraan serta kekuatan?!

Pembicaraan ini, tidak perlu kita terusik i n. Hari ini, relatif kita menelaah shalat berasal sisi kebersihan raga serta kebersihan moral. Pembersih kekal berasal kotoran-kotoran kehidupan dan  sampah-sampah duniawi.


Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma

Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma

AJARAM MUSLIM - Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma

     Ada bermacam-macam najis, dan  najis ini wajib  disucikan dengan cara menghilangkan najis dengan cara yang benar sinkron dengan ajaran islam dan  sunnah nabi muhammad saw. Berikut adalah adalah beberapa dalil sabda nabi saw. Yang menandakan perihal cara-cara menghilangkan najis berasal darah, darah haid, air kencing atau air seni asal bayi perempuan dan bayi pria dan asal sperma atau air mani.

Darah yang tidak bisa hilang atau masih membekas

Rasulullah saw. Bersabda :


 وعن ابى هريرة رضي الله عنه قال قالت حوله يارسول  الله فانلم يذهب الدم؟ قال يكفيك الماء ولا يضرّك اثره (اخرحه  الترمىذى وسنده ضعيف

Merupakan :dari abu hurairah ra. Dia mengatakan : khaulah bertanya : "ya rasulullah, bagaimana jikalau darah itu tidak hilang? Rasulullah bersabda : "cukup bagimu mencucinya dengan air, dan  tidak apa-apa bekasnya bagimu". (hr. Tirmidzi dan  sanadnya lemah).

Dalil hadits yang lain :


 وعن اسماء بنت ابي بكر رضي الله عنه ان النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال فى دم الحيض يصيب الثّوب تحثّه ثمّ تفرضه بالماء ثمّ تنضحه ثمّ تصلّى فيه (متفق عليه

Berasal asma binti abu bakar ra, : bahwasanya nabi saw. Bersabda : wacana darah haid yg tentang kain : "hendaklah beliau (perempuan  ) mengeriknya, kemudian menggosoknya dengan air, kemudian mencucinya, lalu boleh sholat memakai kain itu". (hr. Bukhari dan  muslim).

     Asal liputan dua hadits di atas, maka najis mirip darah cara menghilangkannya artinya menggunakan berusaha menghilangkan bekas darah yg terdapat pada kain menggunakan cara mengerik atau mengeroknya sampai hilang bekasnya, tetapi apabila sudah mengerok atau mengeriknya masih terdapat bekas, maka itu tidak sebagai duduk perkara dan  diperbolehkan mengenakan kain tersebut.

Cara menghilangkan najis air kencing bayi (air seni).

Sabda dalil hadits rasulullah saw. Yang berbunyi :

وعن ابى السّمح رضي الله عنه قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يغسل من بول الجارية ويرشّ من بول الغلام (اخره ابوداود والنّسائ وصححه الحاكم

Artinya : dari abu samh ra. Beliau mengatakan : rasulullah saw. Bersabda : dicuci berasal kencing bayi wanita, serta disiram berasal kencing bayi laki-laki ". (hr. Abu daud serta nasa'i, serta disahkan sang hakim).

     Berdasar hadits pada atas, jelaslah sudah bahwa waktu tubuh kita, atau pakaian kita terkena air kencing berasal bayi wanita (contohnya ketika kita menggendong bayi perempuan  ), maka cara mensucikan atau menghilangkan najisnya merupakan relatif menggunakan cara mencuci anggota tubuh atau sandang yg terkena air kencing bayi perempuan  . Dan  waktu terkena air kencing atau air seni bayi pria, buat menghilangkan najisnya artinya menggunakan cara menyiram anggota tubuh atau sandang yg terkena air seni bayi laki-laki .


Cara menghilangkan sperma asal kain.


Sabda nabi muhammad saw. :


وعن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يغسل المنى ثمّ يخرج الى الصّلاة فى ذالك الثّوب وانا انظر الى اثر الغسل. متفق عليه.
ولمسلم: ولقد كنت افركه من ثوب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فركا فيصلّى فيه. وفى لفظ له: لقد كنت احكيه بابسا بظفرى من ثوبه

Merupakan : asal aisyah ra. Dia mengatakan : ialah rasuluallah saw. Mencuci mani kemudian beliau keluar sembahyang menggunakan kain itu, dan  saya melihat masih terdapat bekas cucian itu." (hr. Bukhari dan  muslim). Dan  pada riwayat muslim : (aisyah berkata : "sesungguhnya saya pernah menggosoknya (mani itu) sahih-benar dari kain rasulullah saw., kemudian beliau sembahyang memakai kain itu". Dan  di lafadz lain riwayat muslim :"sesungguhnya aku  pernah mengikis mani itu pada keadaan kemarau dengan kukuku dari kain nabi saw. "

     Dari warta serta penerangan beberapa riwayat hadits pada atas, asal hadits di atas, mengandung maksud bahwa air mani itu merupakan sesuatu yang suci sebab,asal keterangan hadits nabi bahwa ‘aisyah radhiyallahu ‘anha hanya membersihkan air mani yg sudah kemarau tadi hanya mengikis mani menggunakan kukunya. Tetapi alangkah baiknya seperti yg dilakukan rasulullah saw, yaitu dengan mencuci kain itu meskipun masih ada bekas noda sperma atau mani itu tidak duduk perkara.

Demikianlah yg dikerjakan nabi muhammad saw. Dan  ajaran nabi wacana membersihkan atau menghilangkan najis berupa darah, darah haid, air kencing bayi pria serta perempuan   serta sperma. Semoga kita selalu mengikuti sunnah-sunnah dia dan  selalu menerima syafaat baik di global dan  lebih-lebih pada akhirat.

Doa sebagai obat penyembuh penyakit

Doa sebagai obat penyembuh penyakit

AJARAM MUSLIM - Doa sebagai obat penyembuh penyakit

     Mungkinkan doa mampu menyembuhkan penyakit? Apakah relatif dengan hanya berdoa kepada allah swt, maka kesembuhan akan tiba? Dari beberapa penelitian serta survei diketahui bahwa kegiatan berdoa bisa mengaktifkan sistem limbik otak yg mengatur pencerahan seorang terhadap dirinya, termasuk terhadap waktu serta lingkungannya. Metabolisme tubuh secara menyeluruh ikut berkiprah menuju ekuilibrium, seterusnya menuju pada kesembuhan.

Asal pendalaman akan asal-asal psikoterapi, apa yang terucap pada doa dapat mendatangkan ketenangan jiwa. Kenyamanan jiwa inilah yg diyakini mampu menyembuhkan penyakit, terutama terhadap orang-orang yg meyakini bahwa doanya akan dikabulkan sang allah swt.

Ad interim itu, proses psikologis yang terkandung pada pada doa pula turut membangun hubungan yg bertenaga antara hamba dengan tuhannya. Proses tadi mampu terwujud Jika terdapat kejernihan hati dan  pikiran seorang hamba waktu berdoa kepada allah swt. Selanjutnya hal itu akan merangsang syaraf-syaraf parasimpatis yang mengakibatkan ketenangan hati bagi yg berdoa. Meningkat dan  berkualitas doa yg dipanjatkan, jua terpenuhinya kondisi-syaratnya, maka semakin mustajab doa, sebagai akibatnya mengantarkan di kesembuhan. 

Poly contoh kasus sembuhnya penyakit berkat doa dapat dilihat di artikel berikutnya tentang: ’’kisah-kisah keajaiban doa”.

Kesimpulannya, doa sangatlah bermanfaat pada proses penyembuhan penyakit. Kegiatan berdoa yang diikuti dengan penyerahan diri pada allah swt, dan  senantiasa bersyukur atas pemberian -nya, akan menjadi daur dalam proses penyembuhan penyakit. Dengan begitu, insya allah kesembuhan akan cepat terjadi.

Tetapi, keinginan sembuh berkat doa permanen pulang pada tekad serta keyakinan seseorang. Bila ia meyakini dengan rasa suka  serta syukur, tentu allah swt tak akan tinggal membisu membiarkan hamba-nya yg tengah membutuhkan pertolongan. Perasaan suka  yang tersalur ke otak itu akan memicu rasa optimis, yg mampu sebagai upaya penyembuhan.

Berdoa dengan rasa senang  serta konfiden menggiring pada kenyataan terwujudnya doa itu. Manakala kita merasa bahagia dalam berdoa, secara psikologis jiwa akan merasa tenang serta dapat beraktivitas dengan percaya diri. Otak akan terasa segar sebagai akibatnya bisa berpikir jernih. Hal inilah yang mengantarkan pada kenyaman fisik, tanggal berasal stres.

Jadi, keyakinan pada allah swt sebagai penguasa atas segala sesuatu, jua penyembuh banyak sekali penyakit, turut membantu kesembuhan suatu penyakit. Keajaiban semacam ini hanya akan diberikan oleh allah swt kepada hamba-nya yang terpilih, yakni yang meyakini sepenuh hati di kekuatan-nya yang maha tinggi. Makanya, setiap hamba dianjurkan buat ’’menghadirkan” allah swt ketika berdoa. Maksudnya, merasa seolah melihat allah swt waktu berdoa, sehingga bisa bersungguh-benar-benar pada melafalkan bait-bait doa, dan  meyakini bahwa allah swt absolut mendengar serta akan mengabulkannya.

Segala penyakit tidak akan menimpa seseorang, kecuali atas kehendak atau biar   allah swt. Maka, dia juga yg akan melenyapkan pulang penyakit tersebut, atau mencegahnya asal para hamba-nya. Tidak terdapat tabib, benda, atau obat apa pun yang mampu menyembuhkan/melenyapkan penyakit, kecuali atas biar   allah swt. Menggunakan istilah lain, hanya allah swt yg menghendaki suatu obat menjadi manjur buat kesembuhan hamba-nya.

Pada dasarnya, seluruh penyakit bisa diatasi, kecuali Bila takdir allah swt yg memang mengharuskan seseorang menemui kematian. Dengan demikian, obat hanyalah bersifat mediator. Hal ini dinyatakan pada pada al-qur’an, sebagai berikut:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢

Artinya: serta kami turunkan asal al-qur’an suatu yang sebagai penawar dan  rahmat bagi orang-orang yang beriman dan  al-qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yg zalim selain kerugian. (qs. Al-isra, 17: 82)

Pula firman allah swt:


قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآ

Artinya: katakanlah, ‘al-qur’an itu artinya petunjuk serta penawar bagi orang-orang yg beriman.’ (qs. Fushshilat, 41: 44)

Contoh yang dapat dijadikan panduan bahwa segala penyakit artinya milik allah swt, tergambar pada kisah nabi ayyub Alaihi Salam yg sempat ditimpa penyakit berat. Penyakit nabi ayyub AS yang dideritanya selama 18 tahun baru disembuhkan oleh allah swt selesainya dia berdoa buat disembuhkan.

۞وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ . فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرّٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةٗ مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰبِدِينَ

Ialah: serta (ingatlah kisah) ayyub, waktu beliau menyeru tuhannya: ’(ya tuhanhu), sesungguhnya saya sudah ditimpa penyakit serta kamu merupakan yang kuasa yg maha penyayang pada antara seluruh penyayang’ maka kami pun memperkenankan seruannya itu, kemudian kami lenyapkan penyakit yang ada padanya serta kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, menjadi suatu rahmat berasal sisi kami, serta buat menjadi peringatan bagi seluruh yang menyembah allah.” (qs. Al-anbiya, 21: 83-84)

Kisah nabi ayyub AS dapat menjadi panduan bagi insan biasa buat senantiasa tidak melupakan allah swt, serta selalu mengandalkan doa dalam hidup mereka. Sebab, bahkan seseorang menggunakan derajat nabi mirip nabi ayyub Alaihi Salam pun permanen bersandar pada allah swt dengan mengadukan beban penyakit yang dideritanya pada doa.

Hikmah Doa yang Belum Dikabulkan

Hikmah Doa yang Belum Dikabulkan


AJARAM MUSLIM - Hikmah Doa yang Belum Dikabulkan

     Terlambat terkabulnya doa, belum terkabulnya doa atau tidak dikabulkannya suatu doa bukanlah akhir berasal segala-galanya. Hal ini harus dicamkan dan  dipahami baik-baik. Pertanyaan yg diajukan sebaiknya merupakan: apa nasihat yang dapat kita ambil pada balik  belum terkabulnya, terlambatnya atau tidak dikabulkannya doaku sang allah swt?, bukan “kapan ya doaku dilmbulkan-nya?”.

     Menjadi hamba allah swt, kita pula wajib  mempertanyakan diri kita, apakah pantas mendapat pengabulan doa yg cepat. Kita harus sadar bahwa kita ialah makhluk yang kecil, teramat kerdil di hadapan allah swt sang pencipta, sebagai akibatnya tidak pantas buat mendikte-nya. Jangankan lagi pada allah swt yang mempunyai seluruh isi bumi, semesta raya, bahkan jiwa-jiwa insan, kepada atasan seperti majikan atau bos saja kita masih sering kali bersikap segan.

     Allah swt berhak memberi atau tidak memberi harta yang beliau punya. Merogoh atau meminjamkan kembali nyawa yg dia titipkan. Layaknya jutawan kaya-raya yang memperlakukan hartanya, allah swt berhak menggunakan harta-nya sesuka hati. Apakah dia akan menyampaikan atau tidak Jika ada yang meminta, terpulang pada-nya. Tidak ada kewajiban sedikit pun bagi allah swt buat mengeluarkan sebagian harta-nya. Adapun Jika dia menyampaikan pada hamba yg dikehendaki-nya, itu soal lain. Oleh karena itu, menjadi hamba kita tidak boleh protes manakala doa yg kita panjatkan ternyata ditunda, atau belum dikabulkan dan  bahkan tidak dikabulkan sang allah swt.

     Oleh khalik allah swt maha bijak, maha pengasih dan  penyayang, serta maha memahami segalanya. Sehingga, dikabulkan atau belum terkabulnya dan  bahkan tidak terkabulnya suatu doa, tidak terlepas dari rasa saying allah swt, kebijaksanaan allah swt, pengetahuan allah swt, buat kebaikan hamba-hamba-nya. Pada hal ini, seorang hamba tidaklah relevan mempersoalkan dikabulkan atau tidaknya suatu doa. Hal yang paling krusial dilakukan oleh seseorang hamba merupakan mengevaluasi diri dan  mencari dan  melusuri pesan yang tersirat-hikmah di pulang belum terkabulnya, terlambat dikabulkan serta tertolaknya suatu doa.

      Pesan yang tersirat lain yg dapat diambil di balik  tidak dikabulkan atau tertolak atau lambatnya pengabulan doa artinya buat meringankan beban seorang hamba. Boleh jadi doa yg tertolak saat ini ternyata malah mendatangkan kebahagiaan pada kemudian hari. Mampu pula apabila dikabulkan sempurna ketika, justru malah membawa kemudaratan atau keburukan. Mungkin pula, doa belum dikabulkan atau ditolak karena beban dosa yang dipikul seorang hamba teramat berat, atau hatinya tak jarang lalai pada berdoa.

      Kemungkinan lain ialah bahwa boleh jadi Jika doa dikabulkan, justru akan menambah dosa, atau menghilangkan sesuatu yang jauh lebih baik. Sehingga tidak makbulnya doa justru menjadi lebih baik.Terakhir, mungkin saja pengabulan doa sengaja dilambatkan sang allah swt agar hamba-nya bisa mendekatkan diri pada-nya. Sebaliknya, Bila segera dikabulkan mungkin malah akan membuatnya jauh dari allah swt. Banyak sekali bukti yg membagikan hal tadi.

      Allah swt lebih mengetahui apa yang membentuk hamba-nya jauh berasal-nya. Karena itu, beliau mendatangkan ujian demi mendekatkan hamba pada-nya. Musibah terbesar bagi seorang hamba intinya bukanlah penderitaan fisik maupun psikis yg dideritanya, melainkan jika seseorang hamba jauh dari sang penciptanya allah swt.

      Dari tsauban ra, rasulullah saw bersabda: ’tidak terdapat yg bisa mencegah takdir, kecuali doa. Tidak terdapat yang dapat menambah umur, kecuali kebaikan. Serta seorang benar-benar akan dihalangi berasal rezeki, disebabkan sang dosa yg diperbuatnya. (hr. Al-hakim, 1/493)

Yuk kita selalu berbaik sangka pada allah swt. Karena allah yg mengetahui yg terbaik buat hamba-nya.
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
close