Showing posts with label TASAWUF. Show all posts
Showing posts with label TASAWUF. Show all posts
Mengingat Kematian Makhluk Allah

Mengingat Kematian Makhluk Allah

AJARAN MUSLIM - Mengingat Kematian Makhluk Allah


Kematian pada hakikatnya tidaklah berpola, melainkan bergerak melalui putik-putik yang samar, merambati hari-hari suka  serta sedih insan. Ubun-ubun bumi dan  langit ada pada jangkauannya, sehingga tidak ada yang bisa selamat asal kejarannya.

Pembasmiannya tehadap si muda muda tidak lebih lambat ketimbang terhadap orang tua bangka. Ada saat-waktu di mana kematian membentuk kisah horor yg sungguh menyeramkan, dan  ada ketika-waktu di mana kematian menebarkan keharuan yang menyayat sukma.

Kehidupan merupakan gelombang laut kematian yang selalu menerpa para penumpang kapal yang berlayar di atasnya. Seberapa bertenaga sebuah kapal mampu bertahan dalam terpaan gelombang ombak samudera  yg amat dahsyat!

Seberapa lama   penumpang dapat bertahan di kapal yang terus terombang-ambing oleh ombak dan  badai laut yang menyudutkan, menolengkan, menampar, melontarkan, dan  membuang kuliner yang tersisa? Seberapa jauh bepergian dapat ditempuh dengan perahu reot yang sudah rusak oleh tingkah penumpangnya sendiri?

Apa yang dapat dibutuhkan berasal sebuah perjalanan penuh gonjang-ganjing ini? Adakah nahkoda “banci” yang berjiwa kerdil serta penumpang yang terus berulah dapat menyampaikan asa akan kekekalan perjalanan?

“seorang raja mendirikan sebuah istana yg menghabiskan porto ratusan ribu dinar. Disebelah luarnya, istana itu dihiasi menggunakan menara-menara serta kubah-kubah yg bersepuhkan emas, sedangkan perabotan dan  permadani menghasilkan ruang dalamnya serasa pada pada nirwana.

Selesainya rampung dibangun, oleh raja mengundang segenap orang dari seluruh negeri buat mengunjunginya. Orang-orang ini tiba dengan banyak sekali anugerah sebelum menuju ke tempat duduknya masing-masing.

Setelah dipersilahkan duduk, raja bertanya kepada mereka: “katakan, bagaimana pendapat kalian perihal istanaku ini? Adakah sesuatu yg terlupa, yang dapat menghambat atau mengurangi keindahannya?”

Serempak hadirin menyatakan bahwa belum ada istana semacam ini serta takkan terdapat kembarannya di global. Semua menyatakan demikian kecuali seseorang arif yang bangkit serta berkata:

“ada satu celah mungil yang dari pendapat hamba adalah cacat, tuanku. Andaikan tidak terdapat cacat ini, nirwana itu sendiri pun akan memberikan hadiah-hadiahnya kepada tuanku berasal global gaib.”

“aku  tidak melihat stigma itu,” kata oleh raja marah. “kau orang udik! Dan  kau hanya ingin dirimu tampak penting.”

“tidak, raja yang arogan!” jawab si arif itu. “celah yg kusebutkan itu adalah celah yang akan dilewati izrail, malaikat pencabut nyawa, Bila ia datang nanti. Semoga yang kuasa berkenan, tuanku dapat tutup celah itu.

Sebab Bila tidak, apakah gunanya istana, mahkota dan  singgasana tuanku yang megah ini. Jika maut datang, semuanya akan sebagai segenggam debu. Tidak satu pun yang permanen bertahan lama  , dan  celah itulah yang akan merusakkan tempat semayam tuanku. Tiada akal budi untuk membentuk tak pernah mati apa yang tidak kekal.”

Kematian artinya faktor yang menggerakkan orang-orang bijak buat meninggalkan semua kepalsuan serta kesementaraan menuju keabadian serta kehidupan hakiki.

Dalam metode menjemput maut, al-ghazali bertutur: “merupakan kewajiban orang memandang kematian menjadi kefanaannya, … buat tak memikirkan apapun selain kematian.”

Namun, ironisnya, di global waktu ini, dan  barangkali telah semenjak dahulu kala, hal wacana mirip gaya, fashion, kekayaan, gelar, kesuksesan, dan  sebagainya dianggap lebih ketimbang kematian.

Orang akan jauh lebih terdorong buat mengejar dan  mengantisipasi kesemuan-kesemuan semacam itu daripada kepastian yang bernama kematian. Inilah lawan asas yg disebabkan oleh apa yang disebut oleh orang-orang pandiri menjadi kemajuan serta modernitas.

Semua ini terjadi sedemikian rupa sehingga banyak orang yg merasa tak akan mangkat  atau setidaknya berilusi bahwa beliau akan hayati selamanya. Dalam konteks itulah qs. Al-baqarah: 96 berbicara.

Delusi hayati keka ini boleh jadi bermula berasal angan-angan puak modern buat menguasai serta menikmati seisi dunia. Adalah paradoks Bila modernisme yang pada awalnya lahir buat mengangkat derajat keberadaban (civility) manusia justru terjerumus pada labirin kerakusan merengku dunia.

Pada satu sisi, kematian ialah sebuah rahasia yang wajib  cepat-cepat dikikis asal kesadaran publik yg hendak dijadikan sasaran tembak industrialisasi.

Tetapi, di sisi lain, fantasi ihwal omnipotensi manusia (baca: humanisme) yang mewujud pada sains dan  teknologi modern makin lama   makin menggelandang manusia buat terus alpa akan batas-batas dirinya. Serta tiada batas yang lebih pasti daripada kedatangan maut serta berakhirnya kehidupan.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan Bila aku  katakan bahwa mengingat mati merupakan galat satu metode terampuh buat menyadarkan kembali insan akan batas-batas dirinya, dus  mengembalikannya pada cara hayati masuk akal dan  rasional. Berdasarkan para sufi, panjang angan serta lupa mangkat  artinya 2 faktor primer yang melenakan insan akan batas-batas dirinya, yang sebenarnya artinya benteng penjagaan asal keterbuaian serta kesesatan.

Allah berfirman:

Adapun orang yg melampaui batas dan  lebih mengutamakan kehidupan global, maka sesungguhnya nerakalah yang akan sebagai tempat tingganya. (qs. An-nazi’at: 37-39).

Seberapa pantas kita akan menunggu?

Seberapa pantas kita akan menunggu?

AJARAN  MUSLIM - Seberapa pantas kita akan menunggu?


Dibutuhkan saat sekitar 9 bulan 10 hari, setiap janin yg berada pada kandungan akan siap terlahir. Diharapkan 7 hingga 10 tahun, seseorang anak akan hingga ke masa balig, di saat taklif keberagamaan dikenakan baginya. Diperlukan hampir 25 sampai 40 tahun lamanya, semenjak kita terlahir, sekedar buat mumpuni bersikap sahih-benar dewasa, yakni suatu masa, di saat kita mulai mampu menertawakan diri sendiri. Karena selama ini, baru disadari betapa lucunya kita sudah menjalani hidup. Dan  diharapkan hampir 1 jam lamanya goresan pena ini mampu dirampungkan, selesainya 1 jam yang lalu hanya judulnya saja yang sudah lebih dulu terdapat.

Hampir segala hal yg berproses ke arah sempurna, terikat oleh jalannya waktu. Dan  insan sebagai makhluk yang ditakdirkan buat hidup serta terus berkembang, tidak mungkin terhindar asal keadaan bernama “menunggu”.

Pendek kata, seluruh manusia pasti pernah merasakan dan  mengalami sebuah proses penantian, yg tidak lain ialah menunggu ini dan  itu.

Buat menjadi pohon menjulang, sebutir bibit perlu ditanam. Menunggu sekian lama   buat tumbuh serta berkembang meninggi. Perlu terus dipupuk serta disiram.

Buat memetik buah yang ranum-anggun, kita harus menunggu bunga berubah wujud sebagai butir. Pun butir, dari mentah sebagai matang.

Untuk menyantap sepiring nasi, kita mesti menunggu beras matang dimasak. Dan  sebelum beras didapat, kita pun mesti menunggu bulir padi dipanen, buat kemudian menunggunya lagi selesai digiling. Sehabis sebelumnya, hampir 4 bulan lamanya ditanam dirawat para petani.

Buat pergi jauh ke negeri seberang, di tepian lautan kita menunggu kapal yg akan tiba. Buat dapat terbang melaju pada pesawat, kita mesti menunggu dulu hingga punya tiket. Dan  agar mampu membeli tiket kita wajib  menunggu terlebih dulu punya uang.

Buat diupah, kita mesti menunggu sesudah lebih dulu bekerja. Buat sebagai bos, biasanya kita harus sabar menunggu terlebih dulu belajar sebagai bawahan.

Buat mendapatkan sederet gelar, tak mampu tidak, kita wajib  telaten memulainya asal bangku TK nol mungil hingga tingkatan 1, dua, tiga serta seterusnya.

Menunggu artinya tugas yang harus kita jalani. Jadi jangan pernah merasa serta gampang mengatakan bahwa menunggu merupakan sesuatu yang membosankan buat kita lakukan. Sebab pada menunggu, poly hal yang mampu kita lakukan. Dengan menunggu, banyak pula hal yang akan mampu kita rampungkan. Asal saja kita tahu, bagaimanakah sebenarnya cara menunggu.

Orang yang senantiasa berpikir positif, akan menunggu secara aktif. Pada menunggu, beliau akan menyiapkan aneka macam hal buat dilakukan. Sebab beliau sadar bahwa sesungguhnya menunggu itu meniscayakan sesuatu yang akan tiba, maka dia akan bersiap sedia buat melakukan penyambutan di apa dan  siapapun yang sedang dinantikan.

Seseorang yg akan kedatangan tamu , setidaknya akan tergerak untuk menggelar karpet indah  buat dilewati, kursi yg nyaman buat diduduki, minuman segar serta hidangan lezat-pilihan untuk disuguhkan.

Pada menunggu tiap hal, terdapat konsekwensi yg tidak selaras jua.

Bagaimana kita yang muda menunggu tua? Kita yg miskin menunggu kaya? Kita yang kikir menunggu gemar memberi? Kita yang ingkar menunggu taat?

Bagaimana kita yg malas menunggu rajin? Kita yg hayati menunggu tewas? Akankah kita hanya menunggu, tanpa berbuat apapun?

Bagaimana kita yg tak beramal baik akan menunggu pahala berlimpah? Bagaimana kita yang tidak pernah menanam benih akan pernah menunggu ketika memanen buah?

Buat menunggu, diperlukan upaya konkret. Dalam menunggu, kita tidak mungkin diam tidak melakukan apa-apa.

Bila tidak, pantaskah kita diklaim sebenar-benarnya menunggu?

Cinta tidak terdapat kesempatan kedua?

Cinta tidak terdapat kesempatan kedua?

AJARAN MUSLIM - Cinta tidak terdapat kesempatan kedua?

Sobat, marilah kita sedikit berbual wacana jalan cinta. Di sini, tidak terdapat stagnasi. Pada jalan ini semuanya lurus dan  lapang tidak berkesudahan. Begitu “on”, kau takkan lagi merasa kesulitan, atau kemandekan atau kelambanan. Klik, dan  semuanya berjalan tanpa halangan, kencang tanpa hitungan. Inilah jalan cinta.

Jalan cinta ialah jalan derita yg paling menyenangkan. Ya, semua itu pastilah ada deritanya. Tapi derita cinta, istilah penyair nizar qabbani, artinya yang paling lezat serta manis.

Di jalan ini, sakit pun bisa terasa lebih lezat dari kesembuhan. Serta nikmat kesembuhannya terasa berlipatganda. Di jalan ini, panas terasa sejuk serta kesejukannya akan terus terasa meski panas sekali waktu tiba menarik hati.

Di jalan ini, tidak terdapat aku , kau serta mereka. Di sini seluruh tampak sama, sama-sama tidak tampak lagi. Tidak ada benjolan, friksi, tekanan ataupun kepadatan. Pada sini semua telah dikosongkan; disedot higienis sang kekuatan cinta.

Inilah jalan orang-orang yg sakitnya artinya kesembuhan, bingungnya ialah kepastian, miskinnya artinya kekayaan, tidurnya merupakan keterjagaan, pening kepalanya ialah kelegaan, gilanya ialah pencerahan, serta kesadarannya tidak pernah sirep.

Sobat, Jika kita baca hayati orang-orang yang meniti jalan ini, maka kita tidak mungkin paham. Mereka seperti anak-anak yg tidak kenal lelah bermain, bercanda dan  bermesraan. Akan tetapi mereka tidak pernah main-main. Mirip anak-anak itu, mereka melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh. Mereka sudah menemukan sosok pada pulang bayang-bayang yg dicari kebanyakan orang asal kejauhan. Mereka tepekur menikmati suasana yg tidak ada lagi lahir serta batinnya–di sini semuanya jadi bathin sekaligus zhahir, awal sekaligus akhir.

Jalan ini seperti kereta cepat yang meluncur tanpa stasiun pemberhentian, melaju terus tanpa perlu bahan bakar. Bahan bakarnya merupakan sang kekasih, masinisnya adalah sang kekasih, penumpangnya merupakan sang kekasih, relnya adalah oleh kekasih, keretanya ialah oleh kekasih serta tujuan akhirnya ialah oleh kekasih. Di kereta ini tidak terdapat kategori, analisis, konsep, bahasa, atau komunikasi. Pada dalamnya seluruh melebur jadi kesatuan.

Pada jalan ini, terdapat khalayak ramai bersenandung: pagi ini aku  menengok pantai. Aku  mengingatmu, kekasih. Sekiranya pantai ini mengenalimu, dia sempurna akan meninggalkan bahari, melupakan ikan serta segenap kekayaan di dalamnya, menarik dirinya asal tepian kemudian berlari mengikuti ingatanku.

Di jalan ini, rumi bertutur: sebab cinta yg getir jadi cantik, duri jadi mawar, cuka jadi anggur segar, barah yang berkobar jadi cahaya berpendar, batu yg keras jadi lembut bak mentega, duka jadi riang gembira, amarah jadi kasih sayang, setan jadi malaikat, busuk jadi harum semerbak, logam jadi emas berkilau.

Oh sobat, sekiranya kita bisa sampai di jalan ini, maka tidak ada lagi perasaan kehilangan, seperti pula tidak terdapat perasaan mempunyai. Pada jalan ini, yang ada hanya sang kekasih. Selainnya hanya kekosongan, yg menggendong kita buat terus maju menghampiri sang tujuan.

Ya, pada jalan cinta tak ada kesempatan ke 2, tidak ada keraguan yg mendera, tidak terdapat kesulitan yg melanda, tidak terdapat kata-istilah, tidak terdapat apa-apa. Mereka yg masih senang berjalan di tengah stagnasi asa dan  tumpukan perkakas analisa jangan pernah bermimpi melintasi jalan ini. Mereka bakal menggigil ketakutan di sini, merasakan dahsyatnya kesenyapan.

Sobat, hanya sekali ini saja, yuk kita coba ingat pulang pesan oleh pengajar: “lupakan apa yang bukan jadi urusanmu, semisal hayati dan  matimu, sial  serta mujurmu, harta serta statusmu, perut serta auratmu, kening dan  pahamu, tubuh dan  jiwamu. Sekali ini saja fokuslah pada urusanmu sendiri, yakni kehampaan serta ketiadaanmu.”

Terakhir, sobat, izinkan aku  menggaruk gatal di jidatku dan  mengucapkan selamat tinggal di prosa yg tidak krusial ini.

Merenung, syarat primer pesuluk ruhani ?

Merenung, syarat primer pesuluk ruhani ?


Ajaran Muslim–  merenung, kondisi utama pesuluk ruhani

          Pada kajian tasawuf, tahapan perjalanan ruhani adalah bagian terpenting untuk diketahui. Catatan sejarah para sufi mencerminkan majemuk bahasa bahkan pandangan yg mengekspresikan hakikat bepergian maknawi ini. Di antara kondisi pertama serta primer untuk berjuang melawan diri serta berjalan menuju allah adalah ‘tafakkur’ atau yg awam dikenal dengan ‘perenungan diri’.

          Dalam artikel sederhana ini, tafakkur dipergunakan dalam arti meluangkan saat, berapa pun sedikitnya, buat merenungkan tugas-tugas kita terhadap oleh pencipta serta penguasa kita – yg telah menghadirkan kita ke bumi, yang sudah menganugerahkan kita semua wahana kenikmatan serta kesenangan hidup, yg telah melengkapi kita dengan tubuh yang baik dan  pelbagai daya serta indra yang tepat buat beragam tujuan.

Baca Juga : Mengapa ilahi ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?

Seluruh itu menghasilkan nalar manusia terkagum-kagum. Di samping seluruh pemberian  dan rahmat tadi, dia pula sudah mengutus begitu banyak nabi serta menurunkan kitab  kudus-nya buat membimbing serta mengajak kita agar bisa memperoleh rahmat-nya. Maka, apa kira-kira kewajiban kita teradap allah, raja berasal segala raja ini?

Apakah seluruh ini dianugerahkan kepada kita sekedar buat melayani kehidupan hewani kita serta memuaskan nafsu serta naluri kita – yg jua dimiliki oleh semua binatang lain -ataukah terdapat tujuan yg lebih tinggi?

Apakah seluruh nabi allah, orang-orang arif, para pemikir, dan  orang-orang berilmu berasal setiap bangsa yang telah mengajak manusia buat mematuhi prinsip-prinsip rasional dan  aturan-hukum allah, dan  meminta insan buat meninggalkan seluruh kesamaan hewaninya dan  melepaskan diri dari lingkungan yg fana dan  musnah ini merupakan musuh-musuh manusia? Ataukah mereka yang tidak mengetahui jalan penyelamatan kita, manusia-insan yg tenggelam dalam aneka nafsu syahwat ini?

Bila kita merenung dengan nalar kita sesaat, kita akan tahu bahwa tujuan berasal semua rahmat dan anugerah yang ditanamkan ke pada diri kita ialah sesutu yg lain, yg lebih unggul dan  lebih tinggi daripada yang tampak oleh mata. Dunia ini merupakan tahap perbuatan dan  tujuannya adalah daerah eksistensi yg lebih tinggi serta lebih agung.

Keberadaan hewani yang rendah ini bukanlah ialah tujuan itu sendiri. Seorang manusia berakal mesti menilai dirinya sendiri dan  merasa sedih atas ketakberdayaan dirinya. Menggunakan rasa kasihan, ia seharusnya mengatakan pada dirinya sendiri.

“wahai diri yg lalai! Kau sudah menyia-nyiakan waktu-saat yg berharga pada hidup singkatmu buat mengejar cita-cita duniawi serta nafsumu. Dan  yang bakal kau peroleh hanyalah penyesalan dan  rasa kehilangan. Kau wajib  meratapi perbuatan-perbuatanmu di masa lalu pada hadapan allah serta memulai perjalanan baru ke tujuan yang sudah digariskan sang-nya; bepergian yg akan membawamu kepada kehidupan yg abadi dan  kebahagiaan tak pernah mati.”
“kau tidak boleh menukar kenikmatan-kenikmatan singkat ini, yang bahkan acapkali kali sulit diperoleh, dengan kebahagiaan abadi. Berpikirlah buat sesaat, wahai diri yang lalai! Kau wajib  memikirkan keadaan insan semenjak fajar peradaban hingga masa sekarang. Lihat serta bandingkan penderitaan dan  siksaan yang mereka terima dengan kenikmatan dan  kesenangan yang mereka perolah dan  kau akan melihat bahwa penderitaan serta kesakitan mereka selalu melebihi serta menghilangkan kenikmatan serta kesenangan mereka.”
“kenikmatan serta kesenangan bukanlah untuk setiap orang pada kehidupan ini. Orang yg mengajak dan  mendorongmu buat mengejar kenikmatan duniawi dan  perolehan materiil jelas adalah keliru satu asal kelompok utusan iblis dalam bentuk manusia. Dia selalu mengajak manusia untuk bergabung dengannya pada menyukai kenikmatan-kenikmatan serta menyatakan keyakinannya terhadap jalan ini.”

“pada persimpangan jalan ini, wahai diri, kau harus berhenti buat sesaat dan  berpikir apakah utusan iblis itu telah merasa puas serta senang  menggunakan keadaannya sendiri; ataukah ini seluruh hanya membagikan bahwa seseorang yang telah terjangkiti sang sifat jelek itu ingin menularkannya kepada orang lain”

Baca Juga :Tingginya derajat orang yg ahli sedekahBaca Juga :Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma 

“wahai diri! Kau mesti memohon keridhaan allah bagi semua perbuatanmu dan  terus mengejar keridhaan-nya. Berdoalah agar seluruh perbuatanmu diridhai sang-nya. Di antara dia  dan  engkau  selalu terdapat  sepercik asa. Asa itu akan sebagai nyata pada niat teguhmu buat bertempur melawan iblis dan  jiwa rendahmu. Usaha melawan diri ini akan mengantarmu ke taraf yg lebih tinggi dan  upayakanlah dengan semua kemampuanmu buat mencapainya melalui usaha yang benar-benar-benar-benar.”

Mirip dinyatakan sang nabi muhammad dalam sebuah hadist, bahwa jihad diri artinya jihad akbar yang lebih unggul dibandingkan dengan jihad berperang di jalan allah. Pada tahap ini, jihad akbar berarti usaha manusia buat mengendalikan semua daya serta kekuataan fisiknya untuk patuh di seluruh perintah allah dan  dibersihkan asal seluruh unsur setan serta kekuatannya dalam diri kita.



Mengapa ilahi ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?

Mengapa ilahi ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?


Ajaram muslim –mengapa yang kuasa ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?

          Apa sebenarnya yg mampu dipetik ketika allah berfirman, “dan segala-galanya kami ciptakan serba berpasang-pasangan” (qs. 51: 49). Rasyid al-din maybudi, dalam menjelaskan makna harfiah asal ayat ini, mengatakan bahwa “pasangan” (zawjan) yg dimaksudkan ialah laki-laki  dan  perempuan   di antara makhluk-makhluk hayati serta jenis-jenis yang tidak sinkron di antara benda-benda tewas.

“contohnya, langit dan  bumi, daratan dan  lautan, tanah kasar serta tanah lembut, ekspresi dominan dingin dan  animo panas, cahaya serta kegelapan, iman dan  kekafiran, kebahagiaan dan  kesengsaraan, manis serta getir,” ucapnya.

Yang lebih mendalam dari ayat itu, maybudi melihat “gejala” ganda dalam semua benda itu menjadi indikasi kemustahilan ilahi buat diperbandingkan. Maksudnya,  dewa membentuk segala sesuatu secara berpasang-pasangan buat membedakan keesaan-nya sendiri menggunakan kejamakan makhluk-makhluk-nya.

“ciptaan itu tidak mungkin tanpa dualitas, karena hanya tuhan yang tunggal.”

Maybudi selanjutnya mengemukakan hubungan antara penyebutan “pasangan” dalam al-qur’an serta konklusi yang ditarik al-qur’an dalam ayat selanjutnya: “maka datanglah kepada dewa.”

“Bila kita memandang kosmologi sebagai suatu bentuk primitif serta sains, ayat ini akan tampak tidak relevan menjadi pembahasan ini, sebab ia tidak memberi tahu kita apa pun, tentang perilaku alam raya.”

Namun maybudi melambangkan pendekataan kearifan di pemikiran kosmologi dengan menekankan ikatan erat antara dua dimensi dasar tao islam. “(yaitu) fenomena sikap alam serta ketentuan-ketentuan moral dan  spiritual dalam kehidupan insan.”

Karena kosmos tergantung sepenuhnya di dewa buat eksis dan  mewujud, maka tanggapan insan mestinya adalah pengakuan atas situasi itu menggunakan cara melepaskan pemujaan diri serta ketergantungan di benda-benda kreasi.

“setiap kali ilahi membangun sesuatu yang bersifat sementara, beliau menciptakannya berpasangan, menjadi dua benda yang dikaitkan satu sama lain, atau berlawanan satu sama lain, contohnya, laki-laki  serta perempuan  , siang dan  malam, langit serta bumi, daratan serta samudera , mentari  dan  bulan, jin dan  insan, kepatuhan serta keingkaran, kebahagiaan dan  kesengsaraan, petunjuk serta kesesatan, keagungan dan  kehinaan, kekuasaan serta ketidakmampuan, kekuatan serta kelemahan, pengetahuan serta kebodohan, kehidupan dan  kematian.”

Yang kuasa membangun sifat-sifat dari makhluk-makhluknya dengan cara yg saling berkaitan atau berlawanan satu sama lain sebagai akibatnya mereka tak akan sama menggunakan sifat-sifat pencipta. Keesaan serta ketunggalan-nya menjadi termanifestasi pada hadapan makhluk-makhluknya.

“keagungan-nya tanpa kehinaan, kekuasaan-nya tanpa ketidakmampuan, kekuatan-nya tanpa kelemahan, pengetahuan-nya tanpa kebodohan, kehidupan-nya tanpa kematian, kegembiraan-nya tanpa kesedihan, penghidupan-nya tanpa pemusnahan.”

Dewa itu esa serta unik. Esa pada esensi serta sifat-sifat, unik pada kemuliaan. Dia tidak bisa diperbandingkan menggunakan setiap orang dan  terpisah asal segala benda. “tak terdapat sesuatu yg menyerupai beliau.” (qs 42; 11)

Baca Juga :Tingginya derajat orang yg ahli sedekahBaca Juga :Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma 


Tak terdapat sesuatu yang menyerupai beliau serta beliau tidak punya persamaan atau pembanding. Kecenderungan itu dari asal sekutu, dan  ilahi tidak mempunyai sekutu. Dia tidak mampu disamakan menggunakan apa pun serta tidak butuh apa pun.

“pintu kekikiran-nya tertutup dan  pintu kedermawanan-nya terbuka. Beliau mengampuni dosa-dosa serta memberi belas kasih pada orang-orang yang bersalah. Beliau menghasilkan cinta-nya tampak nyata menggunakan mencintai hamba-hambanya. Beliau menyayangi hamba-hamba-nya meskipun beliau tidak membutuhkan apa-apa.”

Cinta-nya terjalin antara diri-nya serta hamba-nya tanpa perantara. Sebab itu telah selayaknya Jika hamba itu tidak soal bagaimanapun keadaanya –entah dia sedang terluka dalam penderitaan atau bergelimangan dalam kesenangan dan  karunia – buat mendapatkan kedermawanan-nya dan  mencari perlindungan di-nya, lari kepada-nya asal makhluk-makhluk lain, sebagaimana sudah diperintahkan oleh-nya, “maka larilah pada tuhan.”

“pelarian adalah keliru satu kedudukan asal para kelana ruhani, salah satu pemberhentian cinta.”
Pendeknya, kosmos merupakan lokus asal dualitas konkret serta kemajemukan nyata. Jika segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan, “segala sesuatu selain tuhan” pastilah berpasangan, yaitu, didesain asal 2 realitas yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Korelasi batin wanita serta pria

Korelasi batin wanita serta pria


AJARAN MUSLIM - Korelasi batin wanita serta pria

        Dalam duduk perkara relasi gender, tidak sedikit pendapat yang memandang wanita menjadi kelas lebih rendah asal laki-laki  asal sudut pandang agama. Pandangan ‘negatif’ itu bahkan dianggap bersumber berasal ayat al-qur’an, hadis termasuk injil, sedemikian sebagai akibatnya kepercayaan , khususnya islam, diskriminatif terhadap perempuan

“perempuan selalu menjadi teman agama, tetapi biasanya agama bukan teman bagi perempuan  .” (moriz winternitz)

Belum lagi sejumlah perkara yg terjadi di dunia islam telah mendukung keyakinan para pengkritik dan  memperkuat kesan bahwa perempuan – khususnya dalam grup islam garis keras – merupakan gerombolan  tertindas tanpa hak. Kajian mengenai peran wanita selama perang pembebasan turki awal 1920-an atau partisipasi aktif wanita pada gerakan kemerdekaan india dan  usaha pakistan 1940-an, merupakan beberapa model yang menunjukkan hal kebalikannya.

  • Di dunia tasawuf, kalangan sufi menyebut maskulin, atau aspek ‘jalal’ (keagungan) artinya aspek ‘yg’ serta kecintaan, kecantikan, sifat feminin, atau aspek ‘jamal’ (keindahan) merupakan aspek ‘yin’.  Menggunakan penyatuan ke 2 prinsip inilah – yin dan  yg – kehidupan terus ada.
  • “kehidupan tidak mungkin terdapat tanpa ‘systole’ dan  ‘diastole’ detak jantung, tanpa menghirup dan  menghembuskan, atau kerja listrik tanpa dua kutub,” istilah pengkaji tasawuf islam, annemarie schimmel.


Baca Juga : Apa Itu Cinta ? 


Dahulu, lanjut schimmel, kaum sufi menafsirkan perintah yang kuasa dalam penciptaan menggunakan ‘kun’ (jadilah!) – dalam bahasa arab terdiri asal dua huruf – dengan menunjuk pada “benang dua rona” yg menyelubungi, mirip sehalai kain, kesatuan dasar wujud dewa.

Maulana jalaluddin rumi secara spesifik mendeskripsikan keadaan saling menghipnotis yang kontinu antara dua aspek kehidupan itu melalui prosanya yang populer ‘fihi ma fihi’ serta menyebut-nyebut hal itu pada begitu banyak versi lirisnya, diwan serta matsnawi.

“serta bukankah interpretasi mistis berasal huruf pertama abjad arab, yg ramping serta tegak, alif, menggunakan nilai numerik satu, sebagai manifestasi pertama keesaan ilahi; serta huruf ke 2, artinya permulaan penciptaan alam semesta? Karena alfabet  pertama al-qur’an adalah ‘ba’ pada istilah bismillah, “menggunakan nama allah”.

Dengan adanya kecenderungan umum  dalam islam buat mengorganisasikan segala sesuatu ke dalam dua gerombolan  dan  melihat segala penciptaan sesuai kedua aspek ini, bagaimana mungkin sisi-sisi maskulin dan  feminim dalam kehidupan tidak disebut sama-sama penting?

“sebab tanpa kerja keduanya, tidak akan terdapat kehidupan baru pada muka bumi.”

Di sisi lain, semua kosmos dari asal dewa, maka ilahi mencintai alam semesta. Tujuan penciptaan selalu didasarkan  di ekuilibrium serta kesatuan baik dalam alam lahiriah maupun batiniah. Esensi kehidupan manusia baik perempuan   atau laki-laki  artinya buat sebagai insan kamil, yaitu manusia yang dapat menyatukan sisi ilahiah jamal (keindahan/kualitas feminin) dan  jalal (keagungan/kualitas maskulin) menjadi kamal (tepat).

Meskipun menarik diteliti lebih lanjut, Jika digali lebih pada tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Lepas dari aspek tasawuf ini, berdasarkan schimmmel, untuk mengoreksi kesalapahaman umum  wacana kiprah wanita dalam islam, sebenarnya relatif menggunakan melihat bagaimana ucapan-ucapan dalam al-qur’an muslimun wa muslimat, mu’minun wa mu’minat diletakkan sejajar yaitu muslim pria serta perempuan  , kaum beriman laki-laki  dan  wanita. Perempuan   mempunyai kewajiban keagamaan yang sama seperti pria (menggunakan dispensasi bahwa mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban ini pada keadaan tidak kudus).

Toh, tidak shalat atau puasa wajib - wanita balig sebab alasan fikih jua bagian dari melaksanakan kewajiban keagamaan.

Kedudukan tinggi perempuan  , terlihat di istri pertama rasul, khadijah – “ibu kaum mukminin” – dalam perkembangan spiritualnya,  merupakan hal yang sangat konkret. Dengan kasih sayang serta pengertiannya, khadijah memberi rasul kekuatan dalam menghadapi pengalaman yg menegangkan dan  mengguncang hatinya yg paling dalam ketika mendapatkan wahyu pertama yang diturunkan kepadanya, karena beliau percaya akan kerasulan suaminya.

Kemudian putrinya khadijah menggunakan rasul saw yaitu fatimah az-zahra, yg terkenal menjadi perantara atau pada terminologi mistik menjadi umm abiha, “ibu bagi ayahnya”,” istilah fenomenolog agama asal jerman ini.

Rasul saw menyatakan bahwa “nirwana berada pada bawah telapak kaki mak ”. Lalu, rumi melihat “ibu”pada setiap daerah. Secara awam segala sesuatu pada kosmos adalah ibarat seseorang mak  , melahirkan sesuatu yang lebih tinggi berasal pada dirinya. Apakah itu batu barah yg “melahirkan” percikan, yang lalu membuat barah bila ditempatkan pada pengantar panas yang baik, atau bumi yg disuburkan sang awan, membuat tumbuh-tumbuhan menjadi akibat hieros gamos, perkawinan suci. Sedemikian sehingga rumi manggambarkan perempuan , dalam buku pertama matsnawi, menjadi seorang yg pantas dianggap menjadi “pencipta”.

Dalil relasi gender yang sering kali disalahartikan artinya, “istri-istrimu artinya pakaianmu, serta kamu adalah pakaian mereka,” (al baqarah: 188)

Jika kita membuka pulang pemikiran religious antik, pakaian diibaratkan sebagai “keakuan yang lain” (alter-ego). Pakaian bisa berfungsi sebagai pengganti buat seorang, dan  dengan pakaian baru seseorang seolah menerima kepribadian baru.

lebih jauh, pakaian menyembunyikan tubuh, menutupi pandangan terhadap bagian-bagian yg bersifat langsung, dan  melindungi pemakainya,” kata schimmel

Berdasarkan interpretasi ini, suami-istri berbicara satu sama lain pada alter-ego mereka, serta setiap diri melindungi kehormatan pasangannya. Hal ini memperlihatkan betapa baiknya prinsip ‘yin-yang’ berlaku pada hubungan perkawinan yg berarti, “korelasi suami-istri merupakan setara dalam kebersamaan mereka yang sempurna.

Apa itu cinta?

Apa itu cinta?

AJARAN MUSLIM - Apa itu cinta?

         Cinta tidak bisa didefinisikan. Di awal pembahasannya tentang cinta, ibn ‘arabi mengingatkan para pembacanya ihwal warta ini: “engkau  mesti memahami bahwa apa2 yg diketahui mampu dibagi dua.

Yang pertama mampu didefinisikan dan  yg lainnya tidak bisa. Orang-orang yang tahu serta berbicara ihwal cinta putusan bulat bahwa hal yang satu ini termasuk dalam hal yang tak bisa didefinisikan. Seorang menyadarinya waktu keadaan itu bersemayam pada dirinya serta saat ia telah sebagai bagian dari sifatnya. Beliau tak memahami apa itu tapi beliau tidak menyangkal keberadaannya. Sang syaikh menyebut cinta suatu pengetahuan yang dirasa. Orang tidak bisa memahami tentangnya kecuali menggunakan mengalami/merasakannya. Bahkan sehabis mencicipi pun,  dia tidak bisa menjelaskannya pada orang lain.

  • Maka, oleh syaikh pun berkata: “orang yg mendefinisikan cinta belumlah memahaminya. Serta beliau yg belum mencicipi dengan menenggaknya, belum mengetahuinya .” sebagaimana allah hanya mampu diketahui berasal sifat-sifat-nya, cinta pun tidak bisa diketahui sebagaimana adanya, tapi sifat dan  namanya bisa diketahui dan dideskripsikan.
Terlalu akbar cinta itu, istilah rumi, sehingga dia tak bisa didefinisikan. Bagaimana beliau mau didefinisikan Bila sesungguhnya seluruh wujud dan  kehidupan ini adalah cinta?

  • Tidak ada pada kehidupan ini yang mampu mendefinisikan cinta. Justru cinta itulah yang mendefinisikan kehidupan. Meski kata “definisi” di sini sama sekali tidak sempurna. Karena, alih-alih membatasi, cinta yg mencakup kehidupan ini tidak punya batas. 

Bagaimana punya batas, Jika sesungguhnya cinta sebenarnya adalah (bersumber berasal) yang kuasa itu sendiri?

cinta adalah rasa yg melampaui batas. Maka dikatakan bahwa cinta merupakan sifat sejati tuhan. Cinta jadi sifat hamba hanya menjadi turunan berasal itu.… ketahuilah bahwa cabang-cabang cinta terdapat dalam keabadian, tanpa awal; akarnya jua terdapat dalam keabadian, tanpa akhir. … orang menyebut-mu cinta, aku  menyebut-mu sultan cinta.

Jika aku  wajib  melanjutkan penjelasanku ihwal cinta, maka akan berlalu seratus (kematian dan ) kebangkitan sebelum saya mampu menyelesaikannya ….

Maka, dalam ketidakterbatasan itu, rumi mengakui ketakberdayaannya buat menyampaikan cinta:

apa pun yang aku  katakan buat menjelaskan dan  memerikan cinta, itu cuma membuatku dicekam rasa memalukan …. Cinta tak bisa ditampung pada istilah-kata yang kita ucapkan atau kita dengar: cinta merupakan samudra, yg kedalamannya tidak bisa diukur ….  Apakah kau kan menghitung jumlah tetesan samudra? Di hadapan oleh samudra, tujuh samudera  bukanlah apa-apa.

Pada akhirnya beliau hanya bisa mengeluh: 

mana mungkin mengukur samudra-mu menggunakan piring?”Sejalan dengan itu, berdasarkan imam al-ghazali, cinta hanya bisa ditinjau dari akibat yang dihasilkannya.

Kemudian, apa gejala cinta?

Istilah nabi: perumpamaan orang-orang yg beriman pada hal mengekspresikan rasa saling cinta, saling mewujudkan cinta, serta saling merasakan cinta  ialah seperti satu tubuh yg ketika satu anggota tubuh itu ada yang mengeluh, maka semua tubuh meraa mengaduh dengan terus jaga tak mampu tidur dan  merasa panas. (hr. Muslim)

Pada kesempatan lain, nabi mengajarkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta poly mengingat dan  menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu). Orang juga bisa diperbudak sang cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu).

Kata nabi lagi, karakteristik cinta sejati terdapat tiga : 


  • lebih suka  berbicara menggunakan yg dicintai dibanding menggunakan yang lain, 
  • lebih suka  berkumpul dengan yang dicintai dibanding menggunakan yang lain, serta 
  • lebih suka  mengikuti kemauan yg dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri.


Dalam bahasa al-quran, cinta dianggap menggunakan hubb. Istilah al-qusyairi, penulis rîsalah , hubb ialah cinta serta kasih sayang yang paling murni, sebagaimana orang arab mengatakan habab al-asnân buat membagikan orang yang giginya putih-murni. Penulis kasyf al-mahbûb, al-hujwiri mengatakan bahwa hubb boleh jadi berasal berasal habb yang bermakna benih. Hubb bermakna demikian sebab dia bersemayam di benih-benih hati, tetap tidak tergoyah sebagaimana benih tetap berada di tanah serta menjadi sumber kehidupan meski hujan-badai menerpa serta panas surya membakar. Hubb jua dianggap demikian karena istilah itu dari asal hibbah yg berarti benih tetanaman. Cinta disebut hubb karena sebagaimana hibbah artinya benih tanaman, beliau merupakan benih kehidupan.

Buat mendeskripsikan penderitaan tidak terperi dampak hampanya hidup tanpa cinta mirip ini, rumi seperti mengeluh: “ketahuilah, pencinta tanpa cinta merupakan ikan tanpa air, mangkat  serta kering, meski jikalau mereka merupakan para perdana menteri.

Akhirnya, begitu dahsyatnya cinta sehingga – mirip dikatakan kaum ‘ulama’ – cinta meruntuhkan kesombongan dan  membentuk penderitanya tidak segan merendahkan diri, merupakan asal kekuatan dan  pemusatan perhatian yg tidak terbagi, melembutkan hati, menghilangkan pamrih langsung, serta membuahkan orang dermawan serta penuh pemaafan.

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
close