Mengapa ilahi ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?


Ajaram muslim –mengapa yang kuasa ciptakan segalanya buat berpasang-pasangan?

          Apa sebenarnya yg mampu dipetik ketika allah berfirman, “dan segala-galanya kami ciptakan serba berpasang-pasangan” (qs. 51: 49). Rasyid al-din maybudi, dalam menjelaskan makna harfiah asal ayat ini, mengatakan bahwa “pasangan” (zawjan) yg dimaksudkan ialah laki-laki  dan  perempuan   di antara makhluk-makhluk hayati serta jenis-jenis yang tidak sinkron di antara benda-benda tewas.

“contohnya, langit dan  bumi, daratan dan  lautan, tanah kasar serta tanah lembut, ekspresi dominan dingin dan  animo panas, cahaya serta kegelapan, iman dan  kekafiran, kebahagiaan dan  kesengsaraan, manis serta getir,” ucapnya.

Yang lebih mendalam dari ayat itu, maybudi melihat “gejala” ganda dalam semua benda itu menjadi indikasi kemustahilan ilahi buat diperbandingkan. Maksudnya,  dewa membentuk segala sesuatu secara berpasang-pasangan buat membedakan keesaan-nya sendiri menggunakan kejamakan makhluk-makhluk-nya.

“ciptaan itu tidak mungkin tanpa dualitas, karena hanya tuhan yang tunggal.”

Maybudi selanjutnya mengemukakan hubungan antara penyebutan “pasangan” dalam al-qur’an serta konklusi yang ditarik al-qur’an dalam ayat selanjutnya: “maka datanglah kepada dewa.”

“Bila kita memandang kosmologi sebagai suatu bentuk primitif serta sains, ayat ini akan tampak tidak relevan menjadi pembahasan ini, sebab ia tidak memberi tahu kita apa pun, tentang perilaku alam raya.”

Namun maybudi melambangkan pendekataan kearifan di pemikiran kosmologi dengan menekankan ikatan erat antara dua dimensi dasar tao islam. “(yaitu) fenomena sikap alam serta ketentuan-ketentuan moral dan  spiritual dalam kehidupan insan.”

Karena kosmos tergantung sepenuhnya di dewa buat eksis dan  mewujud, maka tanggapan insan mestinya adalah pengakuan atas situasi itu menggunakan cara melepaskan pemujaan diri serta ketergantungan di benda-benda kreasi.

“setiap kali ilahi membangun sesuatu yang bersifat sementara, beliau menciptakannya berpasangan, menjadi dua benda yang dikaitkan satu sama lain, atau berlawanan satu sama lain, contohnya, laki-laki  serta perempuan  , siang dan  malam, langit serta bumi, daratan serta samudera , mentari  dan  bulan, jin dan  insan, kepatuhan serta keingkaran, kebahagiaan dan  kesengsaraan, petunjuk serta kesesatan, keagungan dan  kehinaan, kekuasaan serta ketidakmampuan, kekuatan serta kelemahan, pengetahuan serta kebodohan, kehidupan dan  kematian.”

Yang kuasa membangun sifat-sifat dari makhluk-makhluknya dengan cara yg saling berkaitan atau berlawanan satu sama lain sebagai akibatnya mereka tak akan sama menggunakan sifat-sifat pencipta. Keesaan serta ketunggalan-nya menjadi termanifestasi pada hadapan makhluk-makhluknya.

“keagungan-nya tanpa kehinaan, kekuasaan-nya tanpa ketidakmampuan, kekuatan-nya tanpa kelemahan, pengetahuan-nya tanpa kebodohan, kehidupan-nya tanpa kematian, kegembiraan-nya tanpa kesedihan, penghidupan-nya tanpa pemusnahan.”

Dewa itu esa serta unik. Esa pada esensi serta sifat-sifat, unik pada kemuliaan. Dia tidak bisa diperbandingkan menggunakan setiap orang dan  terpisah asal segala benda. “tak terdapat sesuatu yg menyerupai beliau.” (qs 42; 11)

Baca Juga :Tingginya derajat orang yg ahli sedekahBaca Juga :Cara nabi menghilangkan najis darah, air kecing bayi dan sperma 


Tak terdapat sesuatu yang menyerupai beliau serta beliau tidak punya persamaan atau pembanding. Kecenderungan itu dari asal sekutu, dan  ilahi tidak mempunyai sekutu. Dia tidak mampu disamakan menggunakan apa pun serta tidak butuh apa pun.

“pintu kekikiran-nya tertutup dan  pintu kedermawanan-nya terbuka. Beliau mengampuni dosa-dosa serta memberi belas kasih pada orang-orang yang bersalah. Beliau menghasilkan cinta-nya tampak nyata menggunakan mencintai hamba-hambanya. Beliau menyayangi hamba-hamba-nya meskipun beliau tidak membutuhkan apa-apa.”

Cinta-nya terjalin antara diri-nya serta hamba-nya tanpa perantara. Sebab itu telah selayaknya Jika hamba itu tidak soal bagaimanapun keadaanya –entah dia sedang terluka dalam penderitaan atau bergelimangan dalam kesenangan dan  karunia – buat mendapatkan kedermawanan-nya dan  mencari perlindungan di-nya, lari kepada-nya asal makhluk-makhluk lain, sebagaimana sudah diperintahkan oleh-nya, “maka larilah pada tuhan.”

“pelarian adalah keliru satu kedudukan asal para kelana ruhani, salah satu pemberhentian cinta.”
Pendeknya, kosmos merupakan lokus asal dualitas konkret serta kemajemukan nyata. Jika segala sesuatu diciptakan secara berpasang-pasangan, “segala sesuatu selain tuhan” pastilah berpasangan, yaitu, didesain asal 2 realitas yang berbeda tetapi saling melengkapi.

loading...
Blogger
Disqus

No comments

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
close