Cinta tidak terdapat kesempatan kedua?

AJARAN MUSLIM - Cinta tidak terdapat kesempatan kedua?

Sobat, marilah kita sedikit berbual wacana jalan cinta. Di sini, tidak terdapat stagnasi. Pada jalan ini semuanya lurus dan  lapang tidak berkesudahan. Begitu “on”, kau takkan lagi merasa kesulitan, atau kemandekan atau kelambanan. Klik, dan  semuanya berjalan tanpa halangan, kencang tanpa hitungan. Inilah jalan cinta.

Jalan cinta ialah jalan derita yg paling menyenangkan. Ya, semua itu pastilah ada deritanya. Tapi derita cinta, istilah penyair nizar qabbani, artinya yang paling lezat serta manis.

Di jalan ini, sakit pun bisa terasa lebih lezat dari kesembuhan. Serta nikmat kesembuhannya terasa berlipatganda. Di jalan ini, panas terasa sejuk serta kesejukannya akan terus terasa meski panas sekali waktu tiba menarik hati.

Di jalan ini, tidak terdapat aku , kau serta mereka. Di sini seluruh tampak sama, sama-sama tidak tampak lagi. Tidak ada benjolan, friksi, tekanan ataupun kepadatan. Pada sini semua telah dikosongkan; disedot higienis sang kekuatan cinta.

Inilah jalan orang-orang yg sakitnya artinya kesembuhan, bingungnya ialah kepastian, miskinnya artinya kekayaan, tidurnya merupakan keterjagaan, pening kepalanya ialah kelegaan, gilanya ialah pencerahan, serta kesadarannya tidak pernah sirep.

Sobat, Jika kita baca hayati orang-orang yang meniti jalan ini, maka kita tidak mungkin paham. Mereka seperti anak-anak yg tidak kenal lelah bermain, bercanda dan  bermesraan. Akan tetapi mereka tidak pernah main-main. Mirip anak-anak itu, mereka melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh. Mereka sudah menemukan sosok pada pulang bayang-bayang yg dicari kebanyakan orang asal kejauhan. Mereka tepekur menikmati suasana yg tidak ada lagi lahir serta batinnya–di sini semuanya jadi bathin sekaligus zhahir, awal sekaligus akhir.

Jalan ini seperti kereta cepat yang meluncur tanpa stasiun pemberhentian, melaju terus tanpa perlu bahan bakar. Bahan bakarnya merupakan sang kekasih, masinisnya adalah sang kekasih, penumpangnya merupakan sang kekasih, relnya adalah oleh kekasih, keretanya ialah oleh kekasih serta tujuan akhirnya ialah oleh kekasih. Di kereta ini tidak terdapat kategori, analisis, konsep, bahasa, atau komunikasi. Pada dalamnya seluruh melebur jadi kesatuan.

Pada jalan ini, terdapat khalayak ramai bersenandung: pagi ini aku  menengok pantai. Aku  mengingatmu, kekasih. Sekiranya pantai ini mengenalimu, dia sempurna akan meninggalkan bahari, melupakan ikan serta segenap kekayaan di dalamnya, menarik dirinya asal tepian kemudian berlari mengikuti ingatanku.

Di jalan ini, rumi bertutur: sebab cinta yg getir jadi cantik, duri jadi mawar, cuka jadi anggur segar, barah yang berkobar jadi cahaya berpendar, batu yg keras jadi lembut bak mentega, duka jadi riang gembira, amarah jadi kasih sayang, setan jadi malaikat, busuk jadi harum semerbak, logam jadi emas berkilau.

Oh sobat, sekiranya kita bisa sampai di jalan ini, maka tidak ada lagi perasaan kehilangan, seperti pula tidak terdapat perasaan mempunyai. Pada jalan ini, yang ada hanya sang kekasih. Selainnya hanya kekosongan, yg menggendong kita buat terus maju menghampiri sang tujuan.

Ya, pada jalan cinta tak ada kesempatan ke 2, tidak ada keraguan yg mendera, tidak terdapat kesulitan yg melanda, tidak terdapat kata-istilah, tidak terdapat apa-apa. Mereka yg masih senang berjalan di tengah stagnasi asa dan  tumpukan perkakas analisa jangan pernah bermimpi melintasi jalan ini. Mereka bakal menggigil ketakutan di sini, merasakan dahsyatnya kesenyapan.

Sobat, hanya sekali ini saja, yuk kita coba ingat pulang pesan oleh pengajar: “lupakan apa yang bukan jadi urusanmu, semisal hayati dan  matimu, sial  serta mujurmu, harta serta statusmu, perut serta auratmu, kening dan  pahamu, tubuh dan  jiwamu. Sekali ini saja fokuslah pada urusanmu sendiri, yakni kehampaan serta ketiadaanmu.”

Terakhir, sobat, izinkan aku  menggaruk gatal di jidatku dan  mengucapkan selamat tinggal di prosa yg tidak krusial ini.

loading...
Blogger
Disqus

No comments

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
close